:strip_icc()/kly-media-production/medias/5401360/original/036528900_1762165227-Gunung_Kerinci.jpg)
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Selasa (20/1/2026) mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak Gunung Kerinci di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, setelah terjadi peningkatan signifikan aktivitas kegempaan sejak 19 Januari 2026. Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan peningkatan aktivitas tersebut meliputi gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam.
Data seismik hingga pukul 10.25 WIB pada 20 Januari 2026 mencatat 46 kejadian gempa vulkanik dangkal dan 4 kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, terekam juga empat kali gempa hembusan, 12 kali gempa frekuensi rendah, dan 14 kali gempa hibrida. Grafik Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan energi gempa bersifat fluktuatif dengan kecenderungan meningkat pada akhir periode pengamatan, mengindikasikan migrasi fluida dominan gas dari kedalaman menuju permukaan. Status aktivitas Gunung Kerinci saat ini berada pada Level II (Waspada).
Peningkatan aktivitas kegempaan ini bukan kali pertama terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sepanjang periode 16-30 Desember 2025, rekaman kegempaan menunjukkan aktivitas cukup tinggi dengan 327 kali gempa hembusan, 425 kali gempa low frequency, 870 kali gempa hibrida/fase banyak, dan 10 kali gempa vulkanik dangkal. Sebelumnya pada 4 Januari 2026, Badan Geologi juga mencatat 101 kejadian gempa vulkanik dangkal dan 14 kali gempa vulkanik dalam, memicu penutupan jalur pendakian sejak 6 Januari 2026. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), David, menegaskan bahwa penutupan pendakian dilakukan demi keselamatan pengunjung dan masyarakat.
Gunung Kerinci, dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung api tertinggi di Sumatera dan bagian dari jajaran pegunungan Bukit Barisan. Gunung ini memiliki kawah berukuran 400 x 120 meter yang diisi air berwarna hijau. Sejarah letusan Gunung Kerinci mencatat aktivitas sejak tahun 1838, dengan beberapa letusan signifikan terjadi pada 1838, 1842, 1874, 1967, 1999, dan terakhir pada Desember 2022 dan Januari 2023. Potensi bahaya yang ditimbulkan saat ini mencakup gas vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan pijar jika terjadi erupsi. Erupsi dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului gejala kenaikan aktivitas yang jelas.
Selain faktor vulkanik, penutupan jalur pendakian juga sempat dikaitkan dengan agenda ritual adat dan pembersihan sampah di sepanjang jalur. Kepala Resort Gunung Kerinci, Eko Supriyatno, menjelaskan bahwa ritual adat yang melibatkan empat desa (Kersik Tuo, Batang Sangir, Lindung Jaya, dan Mekar Jaya) dijadwalkan pada 22 Januari 2026, diikuti dengan aksi bersih-bersih pada 23-25 Januari 2026. Kegiatan ini didasari tradisi turun-temurun dan pesan dari gunung untuk segera melakukan pembersihan.
Meskipun pendakian masih ditutup, PVMBG terus melakukan pengamatan intensif untuk memantau migrasi fluida dominan gas dari kedalaman menuju permukaan. Masyarakat dihimbau untuk selalu mematuhi rekomendasi resmi dari Badan Geologi dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak bertanggung jawab. Koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kerinci di Desa Lindung Jaya, Kecamatan Kayu Aro, atau PVMBG di Bandung, Jawa Barat, sangat penting untuk memperoleh informasi terkini dan akurat. Pihak berwenang juga menyarankan maskapai penerbangan untuk menghindari jalur di sekitar Gunung Kerinci karena potensi letusan abu vulkanik.