Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kalsel Bergetar: Tiga Gempa Dangkal Terjadi Beruntun Hari Ini

2026-01-03 | 16:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T09:08:21Z
Ruang Iklan

Kalsel Bergetar: Tiga Gempa Dangkal Terjadi Beruntun Hari Ini

Tiga gempa bumi tektonik dangkal mengguncang Kabupaten Balangan dan Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, secara beruntun pada Sabtu siang, 3 Januari 2026, memicu kewaspadaan akan aktivitas seismik di wilayah yang selama ini dianggap relatif stabil. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banjarmasin mencatat guncangan pertama berkekuatan Magnitudo (M) 2,7 pada pukul 12.18 Wita, berpusat di 2,36 derajat Lintang Selatan dan 115,55 derajat Bujur Timur, delapan kilometer barat daya Kabupaten Balangan, dengan kedalaman empat kilometer. Berselang enam menit, pukul 12.24 Wita, gempa kedua dengan M 3,1 terjadi pada koordinat 2,66 derajat LS dan 116,50 derajat BT, 81 kilometer timur laut Kabupaten Kotabaru, dengan kedalaman tiga kilometer. Guncangan ketiga, sebagai gempa susulan, tercatat pada pukul 12.36 Wita dengan M 2,6 di 2,19 derajat LS dan 115,46 derajat BT, 22 kilometer barat laut Kabupaten Balangan, pada kedalaman 29 kilometer.

Meskipun intensitas guncangan tergolong kecil, karakteristik dangkal dari gempa-gempa ini berpotensi menyebabkan getaran lebih terasa nyata oleh masyarakat di sekitar episenter. Hingga pukul 13.30 Wita, BMKG belum menerima laporan kerusakan atau dampak signifikan dari masyarakat di kedua kabupaten. BMKG mengimbau warga tetap tenang dan melaporkan jika ada kerusakan atau getaran yang dirasakan.

Peristiwa ini menambah daftar aktivitas seismik di Kalimantan Selatan, sebuah wilayah yang secara historis dipandang relatif aman dari gempa bumi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik. Namun, persepsi tersebut mulai terkikis dengan meningkatnya kesadaran akan keberadaan Sesar Meratus. Sesar aktif ini membentang di sepanjang Pegunungan Meratus dan diidentifikasi berpotensi memicu gempa hingga M 7,0. Dr. Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dalam berbagai kesempatan, termasuk seminar kegempaan pada Agustus 2025, telah menegaskan bahwa sejarah mencatat Kalimantan Selatan pernah diguncang gempa signifikan, membuktikan potensi ancaman tersebut nyata adanya dan tidak boleh diabaikan.

Aktivitas Sesar Meratus juga diyakini sebagai pemicu gempa M 4,7 yang merusak di Kabupaten Banjar pada Februari 2024, yang mengakibatkan kerusakan bangunan di Desa Sungkai Baru. Hasil penyelidikan Badan Geologi Kementerian ESDM mengindikasikan bahwa gempa tersebut dipicu oleh pergerakan sesar mendatar (strike-slip fault) di Sesar Meratus. Pakar Bidang Ilmu Rekayasa Geologi Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Adip Mustofa, pada Februari 2024 juga menyatakan fenomena gempa di Kalimantan diakibatkan patahan batuan bumi yang bergeser dari arah Pasifik dan mulai membelah pulau tersebut, meskipun getarannya masih skala kecil.

Rangkaian gempa dangkal di Balangan dan Kotabaru ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana di Kalimantan Selatan. Salah satu kekhawatiran utama adalah ketiadaan peta mikrozonasi risiko tanah di Kalsel, sebuah instrumen krusial untuk acuan pembangunan infrastruktur yang tahan gempa. Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid, pada November 2025, mengungkapkan bahwa absennya peta mikrozonasi menunjukkan ancaman kegempaan di Kalsel belum menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan. BMKG menegaskan perlunya penyusunan strategi mitigasi, termasuk tata ruang pantai berbasis mitigasi bencana, serta peningkatan edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi potensi gempa dan tsunami, terutama di wilayah pesisir. Mengingat Sesar Meratus tersusun atas batuan yang bersifat lunak dan belum kompak, hal ini dapat memperkuat efek guncangan, menjadikan wilayah sekitarnya rentan terhadap gempa bumi. Pemahaman mendalam mengenai potensi bahaya gempa bumi di Kalimantan Selatan, serta wawasan yang diperlukan untuk upaya mitigasi risiko di masa depan, menjadi semakin penting.