Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kades Lampung Tewas Terinjak Gajah: Detik-detik Serangan Mematikan

2026-01-04 | 03:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T20:13:37Z
Ruang Iklan

Kades Lampung Tewas Terinjak Gajah: Detik-detik Serangan Mematikan

Darusman, Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, meninggal dunia pada Rabu, 31 Desember 2025, sekitar pukul 11.10 WIB setelah diserang dan diinjak oleh kawanan gajah liar saat berupaya menghalau satwa tersebut kembali ke Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Insiden tragis ini terjadi di perbatasan antara kawasan konservasi dan perkebunan karet milik warga, menyoroti kembali konflik berkepanjangan antara manusia dan gajah di Sumatera yang semakin intens akibat hilangnya habitat alami gajah.

Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 06.30 WIB ketika tim TNWK menerima laporan adanya gajah liar yang terjebak di kebun karet warga di dekat Jembatan Putul, Desa Braja Asri. Tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI-Polri, pemerintah kecamatan, Satpol PP, BPBD, mitra TNWK, aparat desa, dan masyarakat setempat segera menuju lokasi. Setelah Darusman tiba sekitar pukul 09.00 WIB, disepakati untuk melakukan penggiringan gajah kembali ke habitatnya di TNWK. Namun, saat penggiringan berlangsung, terjadi miskomunikasi antara tim di lapangan, di mana tim blokade di bagian bawah masih berjaga dan membunyikan dentuman serta petasan. Situasi ini menyebabkan gajah-gajah tersebut, yang diperkirakan berjumlah 11 hingga 17 ekor, berbalik arah dan mengamuk. Tim penghalau di posisi atas dilaporkan kehabisan amunisi mercon yang digunakan untuk menakut-nakuti satwa. Dalam kekacauan tersebut, Darusman diserang dan diinjak gajah liar. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dan dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, namun nyawanya tidak tertolong dalam perjalanan.

MHD Zaidi, Kepala Balai TNWK, membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa Darusman gugur saat membantu warganya. Kepergian Darusman menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Braja Asri, yang mengenalnya sebagai pemimpin sigap dan berdedikasi tinggi dalam menangani laporan terkait gajah liar. Kakak kandung almarhum, Kusnan, mengungkapkan bahwa Darusman selalu turun langsung mendampingi warga menghadapi gajah, bahkan sering menghabiskan waktunya di lapangan. Kusnan juga menegaskan bahwa konflik seperti ini bukanlah hal baru, melainkan berulang, dan menyerukan perhatian serius dari pemerintah agar tidak ada lagi korban jiwa.

Konflik manusia dengan satwa liar, khususnya gajah, merupakan persoalan krusial di Lampung. Data Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menunjukkan bahwa antara tahun 2021 hingga 2025, tercatat 1.658 kasus konflik, mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia dan 14 lainnya luka-luka. Di kawasan TNWK saja, interaksi negatif gajah dengan manusia meningkat drastis, dari 114 kasus pada 2023 menjadi 242 kasus pada 2024. Konflik ini telah merugikan ribuan hektare kebun jagung dan singkong warga. Pada tahun 2021, dampak ekonomi dari konflik ini mencapai lebih dari Rp547 juta. Insiden Darusman juga bukan satu-satunya kasus fatal baru-baru ini; pada 30 Desember 2024, seorang nenek berusia 63 tahun bernama Suarni juga tewas diinjak gajah liar di hutan lindung Register 39 Tanggamus.

Penyebab utama konflik ini adalah tumpang tindih penggunaan ruang antara manusia dan satwa liar, baik di dalam kawasan konservasi maupun hutan lindung. Heru Sutmantoro, Kepala Bidang Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, menjelaskan bahwa gajah membutuhkan ruang gerak 7-15 kilometer persegi setiap hari, namun habitat alaminya banyak berubah menjadi perkebunan, pemukiman, dan infrastruktur, membatasi ketersediaan pakan. Yusuf Bahtimi, kandidat Doktor dari University of Oxford yang mengkaji koeksistensi manusia dan gajah di Sumatera Selatan, menekankan bahwa pembukaan lahan sering mengabaikan wilayah jelajah gajah. Degradasi kualitas habitat, fragmentasi, dan penyempitan koridor satwa memaksa gajah keluar dari hutan untuk mencari makan di lahan pertanian warga.

Menyikapi insiden ini, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyatakan komitmennya untuk mengintensifkan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai TNWK. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berencana meluncurkan Satuan Tugas (Satgas) mitigasi konflik dan menggandeng lembaga seperti Wildlife Conservation Society (WCS) untuk memberikan pelatihan serta pemberdayaan kepada masyarakat dalam interaksi dengan gajah liar. Selain itu, Pemkab Lampung Timur mengklaim telah membangun tanggul sepanjang 1,3 kilometer di Desa Braja Asri sebagai upaya mencegah gajah masuk permukiman. Masyarakat juga diimbau untuk tidak terjun langsung menghalau gajah jika tidak memiliki kapasitas yang memadai. Ahmad Latiful Mufti, Pimpinan Majelis Dikdasmen PDM Muhammadiyah Lampung Timur, mendesak pemerintah untuk bertanggung jawab dan mengimplementasikan solusi konkret seperti pembangunan tanggul permanen, lampu penerangan panel surya untuk memonitor pergerakan gajah, dan pengaktifan Pam Swakarsa dari petani desa penyangga.

Konflik yang terus berulang ini memerlukan pendekatan multidimensional dan sinergis dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk aspek ekologi, ekonomi, dan sosial, agar upaya mitigasi dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. Tanpa rehabilitasi ekosistem yang komprehensif dan penguatan kapasitas masyarakat dalam beradaptasi dengan keberadaan satwa liar, risiko tragedi serupa akan terus membayangi masyarakat yang hidup di sekitar kantong-kantong gajah Sumatera.