Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jakarta Utara Waspada Banjir: Pintu Air Pasar Ikan Siaga 2, BPBD DKI Beri Peringatan Dini

2026-01-08 | 05:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T22:59:22Z
Ruang Iklan

Jakarta Utara Waspada Banjir: Pintu Air Pasar Ikan Siaga 2, BPBD DKI Beri Peringatan Dini

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menaikkan status Pintu Air Pasar Ikan di Penjaringan, Jakarta Utara, ke level Siaga 2 pada Kamis dini hari, 8 Januari 2026, setelah tinggi muka air mencapai 205 sentimeter pada pukul 04.00 WIB. Peningkatan status ini memicu peringatan dini bagi sembilan wilayah pesisir Jakarta Utara yang berpotensi terdampak banjir rob. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, dan Kalibaru.

Kenaikan muka air di Pintu Air Pasar Ikan sebagian besar disebabkan oleh fenomena pasang maksimum air laut atau rob, yang seringkali diperparah oleh kondisi astronomis seperti fase bulan purnama dan perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) yang dikenal sebagai "supermoon". Kombinasi fenomena ini, yang diprakirakan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok berpotensi terjadi hingga 7 Januari 2026, dapat meningkatkan ketinggian pasang air laut secara signifikan. Ditambah dengan curah hujan yang diprediksi akan terjadi di Jakarta Utara dalam beberapa hari ke depan, dengan probabilitas hujan ringan hingga badai petir, risiko genangan semakin meningkat.

Secara historis, Jakarta Utara merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap banjir rob, bukan hanya karena lokasinya yang berada di pesisir, tetapi juga diperparah oleh laju penurunan muka tanah yang signifikan. Studi menunjukkan bahwa penurunan muka tanah di beberapa bagian Jakarta Utara dapat mencapai 1 hingga 15 sentimeter per tahun, terutama akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan dan beban bangunan perkotaan. Fenomena ini menyebabkan permukaan daratan menjadi lebih rendah dari muka air laut, menjadikan tanggul-tanggul yang ada kurang efektif dalam menahan gelombang pasang.

Dampak dari banjir rob ini seringkali meluas, mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, merusak infrastruktur seperti jalan dan fasilitas umum, bahkan memicu masalah kesehatan seperti penyakit kulit dan diare. Pada peristiwa banjir rob sebelumnya di akhir tahun 2024, genangan air setinggi 60-70 sentimeter merendam Jalan Raya Pluit Karang Ayu Barat dan mengganggu perjalanan kereta api di Jalan RE Martadinata, Tanjung Priok, selama berhari-hari.

Menanggapi potensi ancaman ini, BPBD DKI Jakarta mengintensifkan penyebaran informasi dan peringatan dini melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan pemberitahuan langsung kepada camat serta lurah di wilayah terdampak. Pemprov DKI Jakarta juga telah menyiagakan sumber daya untuk meminimalkan dampak, termasuk pembangunan tanggul darurat, penyiagaan pompa air stasioner dan mobil, serta pengoperasian pintu air. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, berulang kali menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan mengimbau warga untuk memantau informasi terkini melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut atau aplikasi JAKI, serta menghubungi layanan darurat 112 jika terjadi kondisi darurat.

Dalam jangka panjang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pemerintah pusat terus berupaya mengatasi persoalan banjir rob melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau "Giant Sea Wall". Proyek ini bertujuan untuk memperkuat perlindungan pesisir dan menanggulangi banjir pasang, dengan pembangunan tanggul pengaman pantai yang sebagian ditargetkan rampung pada tahun 2025 untuk Fase A. Namun, keberlanjutan solusi ini juga bergantung pada pengelolaan air tanah yang ketat, revitalisasi drainase, pengerukan sungai, serta peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Upaya terpadu dan berkelanjutan diperlukan mengingat kompleksitas masalah yang melibatkan faktor geografis, demografis, dan perubahan iklim.