:strip_icc()/kly-media-production/medias/1546960/original/093602000_1490374219-bintangdilangit.jpeg)
Serangkaian suara dentuman keras yang disertai kilatan cahaya kemerahan pada Senin, 5 Januari 2026, sekitar pukul 22.15 WIB menggemparkan warga di sejumlah kecamatan di wilayah utara Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, termasuk Cipanas, Pacet, dan Sukaresmi. Fenomena tak lazim ini memicu kepanikan massal, mendorong warga berhamburan keluar rumah dan bersiaga, sementara pihak berwenang dan ahli masih berupaya keras mengidentifikasi asal-usul pastinya.
Insiden yang dilaporkan terjadi di kawasan Puncak dan Ciloto-Puncak ini, dengan salah satu laporan menyebutkan dugaan sumber dari balik perbukitan ke arah Bogor, menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga seperti Wildan Fadilah (20) dari Cipanas dan Febriyanti (16) dari Desa Gadog, Pacet, melaporkan mendengar dentuman yang sangat jelas dan melihat cahaya kemerahan di langit, menyebabkan mereka panik dan memilih bertahan di luar rumah untuk sementara waktu. Dentuman serupa bahkan dilaporkan kembali terdengar pada Kamis, 8 Januari 2026, di kawasan Gunung Kasur, Desa Gadog, Kecamatan Pacet.
Menanggapi fenomena ini, berbagai lembaga telah memberikan penjelasan yang, hingga saat ini, masih belum konklusif dan cenderung berbeda. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Penyelidik Bumi Utama Supartoyo, menduga dentuman dan kilatan cahaya tersebut berkaitan dengan fenomena atmosfer dan geofisika, kemungkinan dipicu oleh energi elektromagnetik. Namun, PVMBG menyatakan masih mendalami penyebab pastinya karena tidak ada aktivitas kegempaan yang terdeteksi di wilayah Cianjur saat kejadian. Kepala PVMBG Hadi Wijaya juga menegaskan bahwa insiden ini tidak terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Gede Pangrango yang berada pada Level I (normal). Laporan dari petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gede menyebutkan dentuman terdengar sekitar pukul 20.00 WIB, yang dikaitkan dengan gemuruh petir, kemungkinan berasal dari arah Jakarta atau Bekasi yang saat itu dilanda hujan deras.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki dugaan berbeda. Kepala BMKG Jawa Barat, Teguh Rahayu, menyatakan bahwa berdasarkan data BMKG Bandung, tidak ada aktivitas kegempaan maupun badai petir yang tercatat di wilayah Cianjur pada waktu kejadian. Oleh karena itu, BMKG menduga fenomena tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh aktivitas manusia.
Sementara itu, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, S.Si, M.Si, menganalisis bahwa kondisi atmosfer saat kejadian terpantau normal tanpa menunjukkan cuaca ekstrem atau aktivitas thunderstorm. Pemantauan seismograf juga tidak mencatat adanya aktivitas seismik maupun peningkatan pergerakan sesar di kawasan Gunung Gede–Pangrango. Sonni Setiawan menunjuk fenomena bolide atau bola api sebagai salah satu kemungkinan paling masuk akal. Bolide adalah meteoroid berukuran besar yang masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, terbakar cepat, menghasilkan kilatan cahaya terang, dan dapat meledak di atmosfer, menciptakan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman. Kilatan cahaya juga dapat dipicu oleh proses ablasi dan ionisasi atmosfer yang melepaskan energi elektromagnetik, sejalan dengan dugaan PVMBG.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui peneliti bidang astronomi, Rhorom Priyatikanto, belum dapat memastikan secara definitif apakah peristiwa ini merupakan aktivitas astronomi. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan bukti foto atau video yang dapat mengonfirmasi dugaan tersebut. Observatorium Astronomi ITERA Lampung, yang memiliki all-sky camera, dilaporkan tertutup awan pada malam kejadian, dan data satelit Geostationary Lightning Monitor (GLM) milik NASA untuk Januari 2026 belum dirilis.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Iwan Karyadi, menegaskan pihaknya masih terus menelusuri informasi dan sumber pasti dentuman serta kilatan cahaya tersebut. Iwan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada. Hingga kini, tanpa bukti visual yang kuat atau konsensus ilmiah, asal-usul suara dentuman dan kilatan cahaya di Cianjur ini tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Fenomena ini tidak hanya menyoroti kompleksitas identifikasi peristiwa alam yang langka, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya koordinasi lintas lembaga dan peningkatan kapasitas pemantauan untuk menjawab kekhawatiran publik di wilayah yang memiliki riwayat aktivitas geologi signifikan.