
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengumumkan bahwa seluruh genangan air yang sebelumnya melanda berbagai wilayah Ibu Kota telah surut sepenuhnya pada Selasa malam, 13 Januari 2026. Deklarasi ini menyusul upaya kolaboratif intensif oleh berbagai satuan kerja perangkat daerah setelah hujan ekstrem memicu banjir di puluhan titik sejak Senin dini hari.
Pada Senin, 12 Januari, Jakarta dilanda hujan dengan intensitas ekstrem, mencapai 192 milimeter di stasiun hujan Kamal dan 178 milimeter di Koja antara pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Curah hujan ini jauh melampaui kapasitas drainase makro Jakarta yang hanya mampu menampung 150 milimeter dan saluran pendukung 100 milimeter dalam empat jam, sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum. Kondisi diperparah oleh pasang air laut yang menghambat aliran air secara gravitasi, terutama di wilayah Jakarta Utara yang mengalami penurunan muka tanah serius, membutuhkan intervensi pompa untuk pengeringan.
Genangan sempat merendam 63 Rukun Tetangga (RT) dan sejumlah ruas jalan pada Senin malam, dengan ketinggian air mencapai hingga 1 meter di beberapa lokasi. Namun, jumlah ini berangsur menyusut drastis. Hingga Selasa pagi, 13 Januari, data BPBD DKI menunjukkan 28 RT dan enam ruas jalan masih tergenang dengan ketinggian air berkisar 10 hingga 60 sentimeter. Kemudian, pada Selasa petang, hanya tersisa tiga RT di Jakarta Barat dan Utara yang masih terendam banjir setinggi 30 sentimeter sebelum akhirnya seluruhnya dinyatakan surut.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menyatakan bahwa pihaknya mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan, berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan untuk melakukan penyedotan genangan. Selain itu, dipastikan tali-tali air berfungsi dengan baik demi mempercepat surutnya genangan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menggarisbawahi komitmen pemerintah provinsi dalam penanganan banjir secara terpadu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiagakan total 1.200 unit pompa, terdiri dari 600 pompa portabel dan 600 pompa bergerak, untuk respons cepat. "Kalau lihat sekarang curah hujan yang seperti ini, dulu pasti sudah genangan dimana-mana. Sekarang karena selalu kita siagakan (pompa), termasuk sekarang di Ancol memang ada kenaikan permukaan air, langsung kita pompa," ujar Pramono, menyoroti efektivitas kesiapsiagaan tersebut.
Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari, terhitung sejak Selasa, 13 Januari. Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa intervensi cuaca semacam ini dinilai lebih efisien dibandingkan potensi kerugian materiil dan sosial akibat dampak banjir.
Secara historis, Jakarta sebagai dataran rendah dengan 13 aliran sungai rentan terhadap banjir yang dipicu curah hujan tinggi di hulu, penurunan muka tanah, dan rob. Upaya jangka panjang meliputi normalisasi dan pengerukan sungai seperti Ciliwung dan Kali Krukut, perbaikan tanggul, serta pembangunan waduk dan sistem polder. Pemprov DKI juga memperkuat sistem pemantauan real-time di 41 titik siaga banjir untuk memastikan penanganan genangan tidak lebih dari tiga hingga enam jam. Meskipun deklarasi genangan surut ini memberikan kelegaan, tantangan fundamental Jakarta dalam menghadapi ancaman hidrometeorologi tetap memerlukan strategi adaptasi berkelanjutan dan implementasi infrastruktur yang resilien.