Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jakarta Ambil Langkah: Rekayasa Cuaca DKI Kembali Digelar, Fokus Kontrol Banjir Ibu Kota

2026-01-18 | 18:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T11:23:52Z
Ruang Iklan

Jakarta Ambil Langkah: Rekayasa Cuaca DKI Kembali Digelar, Fokus Kontrol Banjir Ibu Kota

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mengaktifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) sejak awal Januari 2026, sebagai upaya strategis untuk menekan risiko genangan dan banjir di ibu kota dan wilayah sekitarnya. Langkah ini diambil menyusul peningkatan intensitas curah hujan ekstrem yang diprediksi akan terus berlangsung hingga puncak musim penghujan, dengan fokus mengintersepsi awan hujan sebelum mencapai wilayah padat penduduk.

Operasi modifikasi cuaca ini, yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), bertujuan untuk "memanen" curah hujan di luar area rawan banjir atau mengurangi intensitasnya. Modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai awan-awan potensial hujan menggunakan bahan semai berupa garam NaCl (sodium klorida) dari udara. Proses ini mendorong percepatan kondensasi dan presipitasi, sehingga hujan diharapkan turun lebih awal di daerah hulu atau di atas laut, sebelum massa awan bergerak menuju wilayah urban yang padat.

Sejarah penggunaan TMC di Jakarta dan sekitarnya bukanlah hal baru. Otoritas telah berulang kali mengadopsi metode ini, terutama selama musim penghujan dengan curah hujan tinggi, seperti yang terjadi pada awal tahun 2020 dan 2021, di mana OMC juga diterapkan untuk mereduksi dampak banjir signifikan. BRIN, melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, kerap menjadi garda terdepan dalam aspek teknis dan ilmiah pelaksanaan TMC. Dalam operasi sebelumnya, misalnya pada periode Januari-Februari 2023, BRIN melaporkan keberhasilan menargetkan awan hujan untuk jatuh di laut atau area minim risiko, yang berkontribusi pada mitigasi banjir di beberapa titik vital Jakarta.

Kendati demikian, efektivitas jangka panjang dan implikasi lingkungan dari operasi modifikasi cuaca ini masih menjadi subjek perdebatan dan penelitian berkelanjutan. Meskipun sejumlah laporan menunjukkan penurunan volume air di daerah perkotaan setelah OMC, para ahli meteorologi dan lingkungan mengingatkan bahwa TMC bukanlah solusi tunggal dan permanen untuk masalah banjir Jakarta. Tingginya urbanisasi, buruknya sistem drainase, penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah berlebihan, serta sampah yang menyumbat saluran air, tetap menjadi faktor dominan penyebab banjir yang memerlukan penanganan komprehensif dan multidisiplin.

Angka statistik dari BPBD DKI Jakarta menunjukkan bahwa genangan dan banjir masih menjadi ancaman tahunan, dengan ratusan rukun tetangga (RT) terdampak setiap kali terjadi hujan ekstrem, meskipun TMC telah dilakukan di beberapa musim penghujan sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa sementara TMC dapat menjadi alat taktis untuk mengurangi intensitas hujan lokal, masalah struktural dan tata ruang perkotaan memerlukan perhatian lebih serius.

Ke depan, penggunaan TMC diperkirakan akan tetap menjadi bagian dari strategi mitigasi banjir DKI Jakarta, terutama saat puncak musim penghujan tiba atau ada potensi cuaca ekstrem yang tinggi. Namun, evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitasnya, biaya operasional yang tidak sedikit, serta potensi dampak ekologis yang belum sepenuhnya terkuak, menjadi krusial. Pejabat Pemprov DKI Jakarta telah menyatakan komitmen untuk tidak hanya bergantung pada solusi sesaat, melainkan juga mempercepat proyek-proyek infrastruktur jangka panjang seperti normalisasi sungai, pembangunan waduk penampungan, dan perbaikan sistem drainase perkotaan. Sinergi antara teknologi canggih seperti modifikasi cuaca dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, dianggap sebagai kunci untuk mencapai ketahanan Jakarta terhadap ancaman banjir yang berulang.