Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Investigasi Geologi Ungkap Misteri Sinkhole Sawah Sumbar

2026-01-11 | 03:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T20:07:33Z
Ruang Iklan

Investigasi Geologi Ungkap Misteri Sinkhole Sawah Sumbar

Tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikerahkan ke Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, untuk mengkaji fenomena amblesan tanah masif atau sinkhole yang mendadak muncul di area persawahan warga pada Minggu, 4 Januari 2026. Lubang raksasa berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman diperkirakan mencapai 15 meter tersebut memicu kekhawatiran dan spekulasi di tengah masyarakat lokal, yang sebelumnya mendengar suara gemuruh keras sebelum kejadian. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan potensi risiko lanjutan di wilayah pertanian yang vital.

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa amblesan di kawasan pertanian Pombatan itu bukan disebabkan oleh runtuhnya batu gamping, melainkan oleh proses erosi buluh atau piping erosion. Tim di lapangan menemukan lokasi kejadian tersusun atas endapan lapukan batuan vulkanik berupa tuf batu apung. Lapisan batuan ini, yang bertekstur halus dan mengandung mineral lempung, berada di atas batuan gamping malihan yang kedap air. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air permukaan tertahan dan secara bertahap menggerus lapisan tanah di atasnya, membentuk rongga bawah tanah hingga akhirnya terjadi keruntuhan. Intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut, mencapai 2.000 hingga 2.500 milimeter per tahun, juga turut mempercepat proses erosi bawah permukaan ini.

Meskipun Badan Geologi telah merilis temuan awal, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat, Dian Hadiyansyah, sebelumnya mengemukakan dua kemungkinan penyebab, yakni pelarutan batuan kapur atau gamping, mengingat Nagari Situjuah Batua merupakan kawasan karst yang tertutup material erupsi Gunung Sago, serta erosi pipa pada batuan sedimen vulkanik. Senada, Profesor Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo dari Teknik Geologi UGM juga menyebut fenomena ini dipicu kombinasi pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi, dengan peran Siklon Senyar pada akhir November 2025. Namun, Badan Geologi secara spesifik menegaskan fenomena di lokasi ini adalah erosi buluh, berbeda dengan sinkhole umum yang terbentuk langsung di batuan gamping.

Fenomena serupa, yang oleh masyarakat lokal kerap disebut "Sawah Luluih," menunjukkan bahwa amblesan tanah bukan kejadian baru di Situjuah. Kemunculan sinkhole ini membawa implikasi signifikan terhadap sektor pertanian di Limapuluh Kota, sebuah daerah yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada lahan persawahan. Diameter lubang yang besar dan kedalamannya yang mencapai belasan meter telah mengubah topografi lahan produktif dan berpotensi merusak infrastruktur irigasi di sekitarnya. Air yang mengisi lubang, meskipun tampak jernih dan kebiruan layaknya telaga, telah memicu spekulasi tentang khasiat penyembuhan di kalangan warga, mendorong tim Badan Geologi mengingatkan agar masyarakat tidak mempercayai isu tanpa dasar ilmiah.

Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama jika muncul retakan tanah yang membesar di area pertanian atau permukiman. Mereka menekankan pentingnya melaporkan tanda-tanda awal tersebut kepada aparat setempat untuk koordinasi dengan instansi berwenang. Dari perspektif mitigasi jangka panjang, Badan Geologi merekomendasikan agar lubang sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai penampungan air, namun dengan pemasangan pagar pengaman guna mencegah risiko kecelakaan. Lebih lanjut, lembaga ini juga menyarankan dilakukannya zonasi area rentan sinkhole dan kajian geologi teknik, hidrogeologi, serta pendugaan geofisika seperti georadar atau geolistrik untuk memetakan kondisi rongga atau saluran air bawah tanah. Ini krusial untuk memastikan stabilitas tanah, bukan sekadar menimbun lubang secara fisik, serta sebagai dasar penentuan kebijakan tata ruang yang lebih aman di masa depan. Fenomena ini juga menjadi peringatan serius akan perlunya pengelolaan air dan sistem irigasi yang lebih baik di lahan pertanian intensif, mengingat faktor-faktor ini turut berkontribusi pada kerentanan geologi wilayah.