:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466028/original/096050600_1767792358-unnamed__3_.jpg)
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami erupsi eksplosif pada Senin, 5 Januari 2026, pukul 15.43 Wita, menyemburkan kolom abu vulkanik tebal setinggi 500 meter di atas puncak kawahnya atau sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut. Insiden ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik gunung api stratovulkanik Tipe A tersebut, yang terus menunjukkan peningkatan fluktuasi dalam beberapa bulan terakhir.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, melaporkan bahwa kolom abu berwarna putih hingga kelabu tersebut condong ke arah timur. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 28,8 milimeter dan durasi sekitar 45 detik. Yeremias menegaskan bahwa status Gunung Ili Lewotolok saat ini masih berada pada Level II (Waspada), yang telah berlaku sejak lama. Meskipun demikian, Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas secara intensif. Masyarakat setempat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung, serta mewaspadai zona sektoral sejauh 2,5 kilometer ke arah selatan-tenggara dan barat dari kawah.
Aktivitas Gunung Ili Lewotolok telah menjadi perhatian serius sejak akhir tahun 2020 ketika statusnya sempat naik menjadi Level III (Siaga) setelah erupsi signifikan yang mengakibatkan hujan abu dan kerikil di beberapa desa serta evakuasi ratusan warga. Sejak itu, gunung ini secara periodik menunjukkan letusan-letusan minor hingga sedang. Pada Juli 2025, misalnya, aktivitas erupsi kembali meningkat tajam, dengan kolom abu mencapai 1.200 meter dan lontaran material pijar hingga 1.500 meter, yang menyebabkan kebakaran vegetasi di lereng utara dan timur laut. Kala itu, statusnya sempat dinaikkan menjadi Level III (Siaga) sebelum kemudian diturunkan kembali. Data instrumental pada periode 16 Juni hingga 2 Juli 2025 mencatat ribuan gempa erupsi dan hembusan, menunjukkan dinamika internal yang kompleks.
Implikasi dari aktivitas vulkanik yang berkelanjutan ini melampaui ancaman langsung dari guguran lava, awan panas, atau abu vulkanik. Sektor penerbangan sering kali terdampak, dengan pembatalan penerbangan yang dapat mengganggu konektivitas regional. Bagi masyarakat di kaki gunung, risiko masalah pernapasan (ISPA) akibat abu vulkanik tetap tinggi, sehingga penggunaan masker menjadi keharusan. Persoalan ketersediaan air bersih juga menjadi krusial, mengingat air tadahan berpotensi tercemar abu vulkanik, seperti yang pernah dialami sembilan desa di Lembata. Jangka panjangnya, deposisi abu vulkanik dapat mempengaruhi kesuburan tanah, namun dalam jangka pendek, dapat merusak tanaman pertanian dan mengganggu mata pencarian masyarakat yang dominan agraris.
Pemerintah daerah dan warga diimbau untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, guna memperoleh informasi terkini dan memastikan respons yang tepat terhadap setiap perubahan aktivitas. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana di wilayah yang secara geologis memang rawan ini. Meski Yeremias Kristianto Pugel meminta warga tidak panik saat mendengar gemuruh atau dentuman, hal tersebut merupakan karakteristik gunung api dalam fase erupsi.