:strip_icc()/kly-media-production/medias/3938377/original/044594100_1645165608-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-8.jpg)
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan status Pintu Air Sunter Hulu menjadi Siaga 3 pada Selasa malam menyusul intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur sebagian besar wilayah Ibu Kota sejak sore hari. Ketinggian muka air di pos pantau Sunter Hulu dilaporkan mencapai 180 sentimeter pada pukul 20.00 WIB, dengan tren kenaikan yang signifikan, memicu kekhawatiran akan potensi luapan di permukiman padat penduduk yang berada di sepanjang aliran Sungai Sunter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini kepada warga di bantaran sungai untuk tetap waspada dan bersiap melakukan evakuasi mandiri jika kondisi memburuk.
Kondisi siaga ini bukan kali pertama terjadi. Sejak pembangunan Pintu Air Sunter Hulu pada era kolonial, sistem pengendali banjir ini secara rutin menghadapi tekanan akibat sedimentasi dan volume air kiriman dari hulu. Data historis menunjukkan bahwa kawasan Jakarta Timur, khususnya Cakung, Pulogadung, dan Kelapa Gading, kerap menjadi wilayah terdampak serius setiap kali Pintu Air Sunter Hulu mencapai status Siaga 2 atau Siaga 3. Pada Januari 2020, misalnya, curah hujan ekstrem memicu banjir luas yang merendam ribuan rumah dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi, dengan beberapa titik di sekitar Sungai Sunter mencatat ketinggian air hingga dua meter. Peristiwa tersebut menyoroti kerentanan infrastruktur kota dan urgensi tata ruang yang berkelanjutan.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Moh. Insyaf, curah hujan yang tercatat di beberapa stasiun pengamatan menunjukkan angka di atas 100 milimeter per jam di beberapa lokasi, sebuah intensitas yang digolongkan ekstrem. Fenomena ini diperparah oleh kondisi geografis Jakarta yang merupakan dataran rendah dan memiliki 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, menjadikannya rentan terhadap banjir kiriman dan rob. Analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa peningkatan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem di Jakarta merupakan bagian dari dampak perubahan iklim global, di mana suhu permukaan laut yang lebih hangat di sekitar Indonesia berkontribusi pada pembentukan awan hujan yang lebih masif.
Implikasi jangka panjang dari banjir musiman seperti ini melampaui kerugian material. Gangguan aktivitas ekonomi, penurunan produktivitas masyarakat, serta potensi penyebaran penyakit pascabanjir seperti leptospirosis dan demam berdarah menjadi ancaman laten. Upaya mitigasi yang telah dilakukan, termasuk normalisasi sungai, pembangunan waduk, dan pembangunan tanggul, seringkali terhambat oleh masalah pembebasan lahan dan kurangnya koordinasi antar-instansi. Program jangka panjang seperti pembangunan Giant Sea Wall atau NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) di sisi lain masih menimbulkan perdebatan terkait efektivitas, dampak lingkungan, dan keberlanjutan pendanaannya. Tanpa pendekatan terpadu yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, ancaman banjir akan terus membayangi Jakarta, mengubah setiap musim hujan menjadi periode penuh kecemasan.