:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468587/original/091030300_1767959565-Gubernur_Jateng_Ahmad_Lutfhi_resmikan_taman_dan_monumen_RM_Bambang_Soeprapto.jpeg)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Jumat, 9 Januari 2026, meresmikan taman dan monumen pejuang kemerdekaan Raden Mas (RM) Bambang Soeprapto di kawasan Gajahmungkur, Kota Semarang, sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang memiliki peran sentral dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang sekaligus perintis Satuan Brimob. Peresmian ini menegaskan kembali komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengusulkan RM Bambang Soeprapto sebagai pahlawan nasional, sebuah upaya yang telah diajukan sebanyak tiga kali sebelumnya namun belum membuahkan hasil. Luthfi menyatakan akan terus berjuang agar gelar pahlawan nasional dapat disematkan pada tahun 2026 ini.
RM Bambang Soeprapto Dipokoesoemo adalah sosok pahlawan yang perannya sering terlupakan dalam narasi sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang (15-19 Oktober 1945), di mana nama dr. Kariadi dan Wongsonegoro lebih sering disebut. Lahir di Batang pada tahun 1920, Soeprapto adalah putra dari R.M.A.A. Dipokoesoemo, mantan bupati Batang. Ia memainkan peran strategis sejak masa pendudukan Jepang, ditugaskan ke Semarang pada September 1943 sebagai anggota Sendenbu dengan misi rahasia menghimpun pemuda dan pejuang untuk kemerdekaan. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia menerima penyerahan komando dari Komandan Tokubetsu Keisatsu Tai Jepang dan memimpin Pasukan Polisi Istimewa, cikal bakal Brimob, dalam menyebarkan berita proklamasi serta mempertahankan kota dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Perjuangannya tidak hanya terbatas pada perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga dalam menumpas pemberontakan internal seperti PKI di berbagai daerah pada tahun 1948. Tragisnya, ia gugur pada 28 Mei 1949, dibunuh oleh pemberontak Darul Islam di Kalisat, Brebes.
Monumen setinggi sekitar 10 meter tersebut, karya pematung Heru Joning Siswanto, berdiri di tengah taman seluas 70x24 meter yang didesain oleh Seno Aditya dan M. Danar Sasmito. Pembangunan taman dan monumen ini merupakan inisiatif keluarga ahli waris yang menggunakan dana pribadi mereka. Inisiatif tersebut bermula saat perwakilan keluarga menemui Ahmad Luthfi sewaktu masih menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah. Pemerintah Kota Semarang selanjutnya akan bertanggung jawab atas pengelolaan dan perawatannya. Di berbagai sudut taman, terdapat informasi yang menjelaskan secara rinci sejarah perjuangan RM Bambang Soeprapto, termasuk kontribusinya pada Satuan Brimob.
Haryono Eddyarto, perwakilan keluarga ahli waris RM Bambang Soeprapto, menyatakan bahwa monumen ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Semarang dan Jawa Tengah untuk berkarya, berinovasi, serta menjaga martabat bangsa. Gubernur Luthfi menambahkan bahwa monumen ini berfungsi sebagai "tetenger" atau penanda sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang yang dimotori oleh putra terbaik Jawa Tengah tersebut. Upaya berkelanjutan Pemprov Jateng untuk mengangkat RM Bambang Soeprapto sebagai pahlawan nasional mencerminkan pengakuan atas dedikasi dan pengorbanannya yang besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Langkah ini sekaligus menjadi dorongan moral bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memahami dan menghargai sejarah lokal yang kaya akan nilai-nilai kepahlawanan.