:strip_icc()/kly-media-production/medias/5464754/original/012987500_1767710663-Puncak_Gunung_Gede.png)
Warga di sejumlah kecamatan di utara Cianjur, Jawa Barat, termasuk Pacet, Cipanas, dan Sukaresmi, dibuat resah oleh suara dentuman keras dan kilatan cahaya kemerahan misterius pada Senin malam (5/1/2026) sekitar pukul 22.15 WIB, namun Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan fenomena tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Gede Pangrango. Dentuman yang membuat warga berhamburan keluar rumah dan kilatan cahaya merah di langit tersebut disimpulkan oleh pihak berwenang sebagai fenomena atmosfer dan geofisika.
Humas Balai Besar TNGGP, Agus Deni, menegaskan bahwa hasil pengamatan dan sumber data dari Badan Geologi, PVMBG, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan aktivitas Gunung Gede-Pangrango masih dalam kondisi normal atau Level 1. Oleh karena itu, dentuman dan cahaya misterius itu tidak memiliki kaitan dengan aktivitas gunung api tersebut. Petugas jaga TNGGP melaporkan bahwa dentuman dan kilatan cahaya diduga berasal dari kawasan Ciloto-Puncak, Kecamatan Cipanas, yang diperkirakan masuk wilayah Bogor, bukan dari area taman nasional. Suara gemuruh disertai dentuman kencang dan kilatan cahaya kemerahan dilaporkan hanya berlangsung dalam hitungan detik tanpa ada susulan.
Penyelidik Bumi Utama PVMBG, Supartoyo, menduga fenomena tersebut dipicu oleh energi elektromagnetik, meskipun pemicu pastinya belum ditemukan. Kantor Stasiun Geofisika Bandung melalui Kepala BMKG Jabar, Teguh Rahayu, juga mengonfirmasi bahwa tidak ada aktivitas kegempaan maupun petir yang tercatat di wilayah Cianjur saat peristiwa terjadi, mengindikasikan bahwa fenomena tersebut berpotensi diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Secara historis, Gunung Gede merupakan gunung berapi aktif tipe A yang pernah mengalami beberapa letusan signifikan. Letusan pertamanya tercatat pada tahun 1747-1748 dengan skala VEI-3, menghasilkan dua aliran lava besar dari Kawah Lanang yang diyakini membentuk sumber air panas saat ini. Letusan-letusan kecil lainnya terjadi pada tahun 1761, 1780, dan 1832. Letusan dahsyat kembali terjadi pada tahun 1840, diikuti oleh 24 letusan hingga tahun 1957. Letusan terbesar terakhir terjadi pada tahun 1957 dari Kawah Ratu, dengan kolom letusan mencapai 3.000 meter di atas puncak. Meskipun demikian, Gunung Gede saat ini berada pada status Level I (Normal), namun peningkatan aktivitas vulkanik seperti gempa Vulkanik Dalam pernah tercatat pada April 2025, yang memicu imbauan untuk tidak mendekati Kawah Wadon dalam radius 600 meter.
Peristiwa dentuman dan kilatan cahaya misterius serupa juga pernah dilaporkan di gunung berapi lain seperti Gunung Merapi dan Gunung Raung. Pada Mei 2021, kilatan cahaya terekam di puncak Gunung Merapi tanpa sinyal kegempaan atau suara, yang oleh ahli diduga sebagai meteor. Sementara pada Juni 2021, dentuman dan kilatan cahaya di Gunung Raung juga disimpulkan bukan berasal dari aktivitas vulkanik, melainkan kemungkinan benda antariksa. PVMBG menggarisbawahi pentingnya menelusuri fenomena ini lebih lanjut, mengingat potensi bahaya jika pemicunya belum teridentifikasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada dan hanya mengacu pada informasi akurat dari lembaga resmi. Meskipun status Gunung Gede Pangrango normal, insiden semacam ini menyoroti kebutuhan akan sistem pemantauan yang lebih komprehensif untuk fenomena atmosfer dan geofisika non-vulkanik, khususnya di kawasan padat penduduk yang rentan terhadap kepanikan. Analisis mendalam terhadap data atmosfer dan geofisika dari berbagai instrumen akan menjadi krusial untuk mengidentifikasi penyebab pasti dan mencegah keresahan di masa depan.