Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gagal Rampok Brankas, Berujung Pembunuhan Anak Politikus PKS di Rumah Mewah

2026-01-05 | 15:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T08:39:23Z
Ruang Iklan

Gagal Rampok Brankas, Berujung Pembunuhan Anak Politikus PKS di Rumah Mewah

Seorang pria berinisial HA (31), seorang karyawan operator produksi, ditangkap pada Jumat, 2 Januari 2026, setelah membunuh Muhammad Axle Harman Miller (9), putra politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Maman Suherman, di rumah mewah korban di Kompleks BBS 3, Ciwaduk, Cilegon, Banten, pada 16 Desember 2025. Pembunuhan keji itu terjadi setelah niat HA untuk merampok brankas di rumah tersebut gagal akibat terpergok dan perlawanan dari korban. Aksi pelaku didorong oleh tekanan ekonomi ekstrem setelah mengalami kerugian besar hingga miliaran rupiah dari investasi mata uang kripto.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Banten Kombes Pol Dian Setyawan menjelaskan bahwa motif utama pelaku adalah impitan ekonomi setelah kerugian ratusan juta rupiah akibat bermain kripto. HA awalnya memperoleh keuntungan sekitar Rp4 miliar dari modal awal Rp400 juta yang berasal dari tabungan bersama istrinya. Namun, ia kembali kehilangan seluruh keuntungan dan modalnya setelah terus mencoba peruntungan, lalu terlilit utang senilai total Rp820 juta dari bank, koperasi, dan pinjaman online (pinjol). Selain itu, HA juga terdesak biaya pengobatan kanker yang harus rutin ia jalani setiap minggu, termasuk kemoterapi.

Kronologi kejadian dimulai pada 16 Desember 2025, saat hujan deras melanda. HA, yang dikenal sebagai spesialis pencurian rumah mewah, mendatangi rumah korban di Cilegon. Modus operandinya adalah menekan bel rumah berulang kali; jika tidak ada respons, ia menganggap rumah kosong. Pelaku kemudian memanjat pagar, atau tiang di samping pos satpam, dan mencongkel jendela kamar pembantu untuk masuk ke dalam rumah. Saat beraksi, HA menggunakan masker, helm _full face_, sepatu, dan sarung tangan untuk menyamarkan identitasnya.

Setelah berhasil masuk ke lantai satu, HA menemukan sebuah brankas besar dan mencoba membukanya, namun usahanya gagal. Ia kemudian naik ke lantai dua dan mendapati Axle sedang bermain telepon genggam di atas kasur. HA memberi isyarat agar korban diam, lalu bertanya tentang keberadaan ayah korban dan kunci brankas. Korban menjawab bahwa ayahnya sedang keluar dan tidak mengetahui lokasi kunci brankas, menyarankan pelaku untuk bertanya kepada kakaknya.

HA lantas berusaha mengikat korban di balik lemari. Namun, Axle melakukan perlawanan dengan berteriak dan menendang lutut serta kemaluan pelaku sebanyak dua kali, membuat HA kesakitan. Dalam kepanikan, HA mengeluarkan pisau dan menikam korban berulang kali, dua kali di dada dan dua kali di leher, hingga Axle meninggal dunia. Korban ditemukan tewas dengan total 19 luka akibat senjata tajam dan benda tumpul di tubuhnya. Setelah pembunuhan, HA kembali ke lantai satu untuk mencoba membuka brankas, tetapi tetap tidak berhasil. Ia juga memeriksa kamar lain tanpa menemukan barang berharga, lalu melarikan diri melalui jendela yang dicongkelnya.

Proses penyelidikan awal sempat terkendala karena kamera pengawas (CCTV) di rumah korban telah mati sejak 2023 dan tidak adanya petugas keamanan. Namun, penangkapan HA terjadi secara dramatis pada 2 Januari 2026, ketika ia kembali melakukan pencurian di rumah mantan anggota DPRD Cilegon, Roisyudin Sayuri. HA tepergok oleh asisten rumah tangga dan mencoba bersembunyi di bawah mobil sebelum akhirnya diamankan oleh polisi. Saat diinterogasi, HA mengakui perbuatannya, termasuk pembunuhan Axle dan tiga aksi pencurian lainnya.

Penyidik dari Polda Banten telah menetapkan HA sebagai tersangka dan menjeratnya dengan Pasal 458 ayat 1 dan ayat 3 KUHPidana tentang pembunuhan yang didahului pencurian dengan pemberatan, serta Pasal 80 ayat 3 _juncto_ Pasal 78C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. HA terancam hukuman penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun. Penyelidikan menggunakan metode _Scientific Crime Investigation_, termasuk pemeriksaan biologis forensik yang menemukan bercak darah korban pada pisau yang ditemukan di tas HA.

Insiden ini menyoroti kerentanan keamanan di kompleks perumahan mewah dan dampak destruktif dari tekanan finansial ekstrem yang dipicu oleh investasi berisiko tinggi seperti kripto. Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel sempat mengemukakan perlunya kehati-hatian polisi dalam mengumumkan pelaku sebelum seluruh bukti, seperti DNA atau sidik jari, terkumpul. Namun, pengakuan tersangka dan bukti forensik yang ditemukan menguatkan dugaan keterlibatannya. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan komitmennya untuk mengawal kasus ini hingga persidangan guna memastikan keadilan bagi keluarga korban. Peristiwa tragis ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan individu dan komunitas terhadap risiko kejahatan yang semakin kompleks, sekaligus mendesak otoritas untuk menyoroti fenomena pinjaman online dan investasi ilegal yang dapat mendorong seseorang pada tindakan kriminalitas.