:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475845/original/086013600_1768663765-114070.jpg)
Tim SAR Gabungan saat ini memfokuskan pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan registrasi PK-THT di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menyusul temuan serpihan pesawat dan laporan visual titik api. Pesawat yang membawa delapan kru dan tiga penumpang ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 WITA dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Tim telah menyiapkan dua jalur evakuasi untuk mengantisipasi penemuan lokasi jatuhnya pesawat di medan yang menantang tersebut.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa fokus pencarian di Bulusaraung didasarkan pada kesesuaian titik hilang kontak pesawat dengan karakteristik geografis wilayah tersebut, yang berada di koordinat sekitar 4°57'06,64" Lintang Selatan dan 119°43'23,58" Bujur Timur. Sejumlah indikasi kuat, termasuk laporan warga yang mendengar dentuman keras dan melihat asap membumbung dari arah pegunungan, serta penemuan serpihan diduga milik pesawat oleh pendaki di lereng gunung, semakin menguatkan dugaan lokasi kecelakaan. Serpihan tersebut, termasuk bagian yang menyerupai dinding pesawat dan dokumen, telah dievakuasi ke Polres Pangkep untuk verifikasi.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut sedang dalam misi dinas di bawah Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), dengan tiga pegawainya, Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal, berada di dalam pesawat. Kondisi medan yang berupa kawasan karst dan pegunungan terjal di Gunung Bulusaraung menjadi tantangan signifikan bagi tim SAR. Pencarian menghadapi kendala cuaca buruk dan keterbatasan jarak pandang, yang menyebabkan pencarian udara sempat dihentikan sementara.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menerjunkan tim untuk menelusuri insiden ini, namun belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan, termasuk dugaan pesawat menabrak Gunung Bulusaraung. Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menduga Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat tidak berfungsi karena kemungkinan hancur akibat benturan, yang menyulitkan penentuan lokasi pasti. Prioritas utama KNKT saat ini adalah membantu Basarnas dalam proses pencarian dan evakuasi, dengan harapan kotak hitam (black box) pesawat dapat ditemukan bersamaan dengan korban untuk mengungkap penyebab kecelakaan.
Operasi pencarian melibatkan sekitar 400 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan, dengan dukungan helikopter H225M Caracal milik TNI AU. Dua jalur evakuasi telah disiapkan, dengan pemilihan jalur akan disesuaikan dengan kondisi cuaca dan faktor keamanan untuk mempercepat proses evakuasi. Posko pencarian dipindahkan ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, untuk memudahkan koordinasi, meskipun posko lapangan tetap didirikan di daerah Bantimurung dan Tompobulu, Pangkep.
Insiden ini menambah daftar panjang tantangan keselamatan penerbangan di wilayah Indonesia yang memiliki topografi pegunungan kompleks. Kawasan Sulawesi, dengan formasi karst dan pegunungan yang curam seperti Bulusaraung, telah lama menjadi perhatian dalam operasional penerbangan, khususnya untuk pesawat berkapasitas menengah seperti ATR 42-500 yang kerap melayani rute perintis atau non-utama. Pembekalan pengetahuan tentang karakteristik geografis dan kondisi cuaca ekstrem menjadi krusial bagi kru penerbangan. Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan dan otoritas terkait, diharapkan melakukan tinjauan menyeluruh terhadap prosedur penerbangan di wilayah pegunungan serta standar peralatan keselamatan, terutama fungsi ELT yang vital dalam situasi darurat. Penemuan kotak hitam menjadi kunci untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi pada kecelakaan ini, memberikan pelajaran berharga untuk peningkatan regulasi dan teknologi keselamatan penerbangan di masa depan.