Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Flores Timur Porak-poranda: Cuaca Ekstrem Rusak Parah 6 Rumah dan Fasilitas Sekolah

2026-01-16 | 06:12 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T23:12:10Z
Ruang Iklan

Flores Timur Porak-poranda: Cuaca Ekstrem Rusak Parah 6 Rumah dan Fasilitas Sekolah

Enam rumah warga dan sebuah bangunan sekolah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kerusakan parah akibat terjangan angin kencang dan hujan deras yang terjadi dalam empat hari terakhir, hingga Kamis (15/1/2026) ini. Bencana hidrometeorologi ini melanda sejumlah kecamatan, memperburuk kerentanan wilayah tersebut terhadap dampak cuaca ekstrem yang berulang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Fredy Moat Aeng, mengonfirmasi jumlah kerusakan tersebut dan mendesak kepala desa serta lurah untuk segera melaporkan dampak lebih lanjut. "Kejadian ada banyak. Laporan sudah masuk sekitar enam rumah hingga sekolah," kata Fredy Moat Aeng pada Kamis (15/1/2026). Kerusakan, yang rata-rata diakibatkan oleh pohon tumbang yang menimpa bangunan dan merusak atap, terjadi di Kecamatan Titehena, Kecamatan Larantuka, dan Kecamatan Adonara Timur. Laporan awal menyebutkan kerusakan terjadi di Desa Watowara (satu rumah), Kelurahan Ekasapta (dua rumah), Kelurahan Sarotari Tengah (satu rumah), Desa Leraboleng (satu rumah), dan Adonara Timur (satu unit kerusakan). Sebelumnya, pada 12 Januari 2026, sebuah rumah di Desa Leraboleng, Titehena, ambruk rata dengan tanah setelah tertimpa pohon beringin besar, sementara rumah lain di Desa Watowara-Lato juga rusak parah akibat angin kencang.

Flores Timur, sejak awal Januari, telah dilanda cuaca ekstrem dengan intensitas tinggi, termasuk banjir lahar dingin yang signifikan. Pola cuaca yang tidak menentu ini bukan fenomena baru bagi wilayah NTT. Pada Januari 2023, angin kencang serupa menyebabkan 39 rumah warga dan sejumlah fasilitas umum, termasuk gedung UNBK SMAN 1 Larantuka dan SDK Kokotobo, rusak, mendorong penetapan status tanggap darurat bencana selama 14 hari oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur.

Kerentanan geografis Flores Timur, yang merupakan bagian dari gugusan kepulauan Nusa Tenggara, menjadikannya sangat rentan terhadap berbagai bencana alam. Selain hidrometeorologi, wilayah ini juga sering dihadapkan pada ancaman erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang berdampak luas. Sejak erupsi pada November 2024, setidaknya 10 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka, memaksa lebih dari 13.000 orang mengungsi. Bencana erupsi tersebut juga telah menghancurkan ratusan hektar lahan pertanian, menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi petani di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura. Pemerintah bahkan telah menetapkan status tanggap darurat bencana alam selama tiga bulan dari 27 Maret hingga 27 Juni 2025, sebagai respons terhadap ancaman ganda dari erupsi dan cuaca ekstrem.

Implikasi jangka panjang dari bencana berulang ini terasa mendalam di tingkat sosial-ekonomi. Kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur menghambat mata pencarian masyarakat, banyak di antaranya terhimpit beban cicilan utang di bank atau lembaga keuangan lainnya. Biaya pendidikan anak juga menjadi tantangan besar di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim hujan di NTT pada 2024/2025 akan tiba lebih awal dan lebih basah dari biasanya, dengan potensi La Niña lemah yang dapat mempercepat kedatangan curah hujan di atas normal. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2025. Prediksi ini mengindikasikan potensi peningkatan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang di masa depan.

Menanggapi tantangan ini, pemerintah daerah melalui BPBD terus melakukan pemantauan dan respons cepat terhadap kejadian bencana. Namun, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci. Sejumlah penelitian juga menyoroti pentingnya program Desa Siaga Bencana dan pemanfaatan kearifan lokal dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Dengan kompleksitas ancaman bencana yang terus meningkat, koordinasi lintas sektor dan pemberdayaan komunitas menjadi krusial untuk membangun ketahanan wilayah Flores Timur yang lebih baik.