Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Empat Brimob Diciduk Terkait Penembakan Warga di Bombana Sultra

2026-01-10 | 03:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T20:41:31Z
Ruang Iklan

Empat Brimob Diciduk Terkait Penembakan Warga di Bombana Sultra

Empat personel Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara telah diamankan terkait dugaan penembakan terhadap seorang warga sipil di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, yang memicu penyelidikan internal dan seruan akuntabilitas dari publik serta organisasi hak asasi manusia. Insiden ini terjadi pada malam hari, melibatkan baku tembak yang menewaskan seorang warga di Desa Laloa, Kecamatan Kabaena Selatan, pada awal November 2024.

Penyelidikan awal yang dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sulawesi Tenggara mengidentifikasi empat anggota Brimob yang terlibat dan langsung menjalani pemeriksaan intensif. Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, Irjen Pol Dwi Irianto, menegaskan komitmennya untuk menindak tegas anggotanya yang terbukti melanggar hukum, memastikan proses hukum berjalan transparan dan berkeadilan. Korban penembakan, seorang pria bernama Laode Abdul Rahman, ditemukan tewas dengan luka tembak di bagian tubuhnya setelah baku tembak antara warga dan pihak kepolisian.

Insiden tragis ini bermula dari bentrokan yang terjadi di Desa Laloa pada 1 November 2024. Menurut laporan, personel Brimob ditempatkan di wilayah tersebut sebagai bagian dari pengamanan pasca konflik antar kelompok masyarakat yang sebelumnya terjadi. Namun, situasi memanas ketika personel Brimob disebut mengeluarkan tembakan peringatan yang kemudian berujung pada penembakan fatal terhadap warga. Keluarga korban, yang didampingi oleh kuasa hukum, telah mendesak agar kasus ini diusut tuntas dan para pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku, menuntut keadilan bagi Laode Abdul Rahman.

Kasus penembakan oleh aparat kepolisian terhadap warga sipil di Bombana ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang melibatkan oknum aparat di Indonesia, memicu pertanyaan serius mengenai prosedur standar penggunaan kekuatan dan pelatihan personel. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menyatakan keprihatinannya dan siap mengawal kasus ini untuk memastikan tidak ada impunitas. Ketua Komnas HAM menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) kepolisian, terutama dalam menghadapi konflik sosial atau situasi yang berpotensi memicu kekerasan.

Implikasi dari insiden ini tidak hanya terbatas pada proses hukum terhadap keempat personel Brimob, tetapi juga berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap institusi Polri, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara. Transparansi dalam penanganan kasus ini dan penegakan hukum yang adil akan menjadi krusial untuk memulihkan citra kepolisian dan memastikan akuntabilitas. Kejadian di Bombana ini menyoroti kebutuhan mendesak akan reformasi kepolisian yang berkelanjutan, termasuk peningkatan kapasitas personel dalam manajemen konflik tanpa kekerasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh media dan masyarakat sipil, dengan harapan agar keadilan ditegakkan dan insiden serupa dapat dicegah di masa mendatang.