Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Duka Mendalam Sumatera: 1.177 Nyawa Melayang dalam Bencana Terkini

2026-01-04 | 17:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T10:52:02Z
Ruang Iklan

Duka Mendalam Sumatera: 1.177 Nyawa Melayang dalam Bencana Terkini

Jumlah korban meninggal dunia akibat serangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sebagian besar Pulau Sumatra mencapai 1.177 orang hingga Minggu, 4 Januari 2026, setelah penambahan 10 jiwa dalam 24 jam terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, ribuan infrastruktur rusak parah dan ratusan ribu warga masih berada di pengungsian pascabencana hidrometeorologi yang dipicu Siklon Tropis Senyar sejak akhir November 2025 lalu.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengonfirmasi peningkatan jumlah korban jiwa tersebut pada Minggu sore. Penambahan 10 korban meninggal dunia berasal dari Aceh Utara (3 jiwa), Tapanuli Selatan di Sumatra Utara (5 jiwa), dan Sumatra Barat (2 jiwa). Data ini menambah rekapitulasi total korban jiwa yang pada 3 Januari 2026 mencapai 1.167 orang. Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan gabungan masih terus berlangsung di tiga provinsi terdampak utama: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Rincian korban meninggal dunia menunjukkan Aceh menjadi provinsi dengan angka tertinggi, mencapai 543 orang. Sumatra Utara mencatat 370 korban jiwa, dan Sumatra Barat 264 orang. Selain korban meninggal, sebanyak 148 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 31 orang hilang di Aceh, 43 orang di Sumatra Utara, dan 74 orang di Sumatra Barat. Muhari menyatakan bahwa operasi pencarian difokuskan untuk meminimalkan jumlah daftar orang hilang.

Dampak bencana juga mengakibatkan 242.174 jiwa warga masih mengungsi. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dari total pengungsi sebelumnya yang mencapai 380.360 jiwa pada 1 Januari 2026, dan 257.780 jiwa pada 3 Januari 2026. Abdul Muhari menjelaskan bahwa penurunan jumlah pengungsi ini seiring dengan intensifikasi pembersihan kawasan permukiman dan pemulihan infrastruktur oleh aparat gabungan, masyarakat, serta relawan. Warga yang masih bertahan di pengungsian umumnya adalah mereka yang rumahnya rusak berat atau hanyut terbawa banjir dan longsor.

Kerusakan infrastruktur tercatat masif. BNPB mendata 178.478 rumah mengalami kerusakan, dengan 52.303 unit rusak berat, 43.933 unit rusak sedang, dan 82.243 unit rusak ringan. Lebih lanjut, 215 fasilitas kesehatan, 3.188 fasilitas pendidikan, dan 803 rumah ibadah juga terdampak. Aksesibilitas terganggu dengan putusnya 34 jembatan dan 81 ruas jalan.

Menanggapi situasi ini, pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo Subianto menyatakan persetujuannya terhadap usulan operasi besar pendalaman sungai dan kuala di wilayah Aceh hingga Sumatra. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengajukan usulan tersebut, dengan harapan akses sungai dapat dimanfaatkan untuk jalur logistik dan operasi pemulihan pascabencana, mengurangi ketergantungan pada jalur darat yang sering terputus. Langkah ini menunjukkan upaya jangka panjang pemerintah dalam mitigasi risiko bencana hidrometeorologi serupa di masa mendatang. Pemerintah juga menyiapkan alokasi dana untuk perbaikan cagar budaya yang terdampak bencana. Namun, tantangan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak tetap menjadi prioritas utama.