Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Depok Membara: Nobar Persib vs Persija Berakhir Adu Jotos Suporter

2026-01-12 | 04:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T21:05:50Z
Ruang Iklan

Depok Membara: Nobar Persib vs Persija Berakhir Adu Jotos Suporter

Puluhan suporter Persija Jakarta dan warga lokal yang mayoritas pendukung Persib Bandung terlibat bentrokan di kawasan Gang Jati, Jalan Raya Muchtar, Sawangan, Depok, pada Minggu, 11 Januari 2026, menyusul berakhirnya pertandingan Super League yang memenangkan Persib. Insiden yang dipicu oleh saling provokasi dengan petasan ini mengakibatkan satu warga terluka dan sejumlah rumah mengalami kerusakan. Kericuhan bermula sekitar pukul 17.00 WIB, saat sekitar 50 pendukung Persija menggelar nonton bareng (nobar) di Cafe Teras Singgah. Ketegangan memuncak ketika Persib Bandung unggul satu gol, memicu suara petasan dari permukiman warga yang dikenal sebagai pendukung Persib.

Kapolsek Bojongsari, Kompol Fauzan, menjelaskan bahwa insiden awal sempat dilerai setelah mediasi oleh tokoh masyarakat dan Ketua RW setempat, sehingga situasi sempat kondusif. Namun, emosi kembali tersulut setelah Persib dipastikan memenangkan laga 1-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, membuat suporter Persija meluapkan kekecewaan mereka. Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, menambahkan bahwa kelompok suporter Persija yang bertambah menjadi sekitar 100 orang kemudian mendatangi rumah-rumah pendukung Persib, yang dibalas dengan lemparan kembang api oleh warga dan lemparan batu dari suporter The Jak. Sebanyak 10 suporter diamankan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan, dan situasi di lokasi berhasil dikendalikan serta dinyatakan kondusif pada pukul 18.00 WIB.

Rivalitas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta telah lama menjadi salah satu yang terpanas dalam sepak bola Indonesia, seringkali melampaui batas sportivitas dan berujung pada kekerasan antar kelompok suporter, Bobotoh dan The Jakmania. Catatan sejarah menunjukkan serangkaian insiden kekerasan yang melibatkan kedua kubu, bahkan hingga merenggut korban jiwa di berbagai lokasi. Pada Februari 2025, kericuhan juga terjadi usai laga Persija vs Persib di Bekasi, menyebabkan 37 orang menjadi korban pengeroyokan. Fenomena kekerasan suporter ini tidak hanya merugikan materiil dan fisik, tetapi juga menciptakan rasa cemas di masyarakat. Sebuah survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Oktober 2023 mengungkapkan bahwa 74% responden menganggap kerusuhan suporter sebagai permasalahan utama sepak bola Tanah Air. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa pemicu utama kerusuhan adalah saling provokasi antar suporter (36,3%), disusul oleh ketidaktahuan penonton akan aturan (17,1%), dan kepemimpinan wasit yang kurang tegas (12%).

Ahli psikologi sosial menyoroti fenomena "manusia massa" dan "deindividuasi" sebagai faktor pendorong agresi dalam kerumunan suporter. Ketika seseorang kehilangan identitas diri dan melebur dalam kelompok, mereka cenderung melakukan tindakan yang tidak akan mereka lakukan secara individu. Penelitian pada Januari 2025 bahkan menunjukkan adanya korelasi negatif antara fanatisme dan agresivitas pada suporter Persib Bandung, di mana tingkat fanatisme yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan kecenderungan agresivitas, dengan 97,1% responden menunjukkan agresivitas tinggi.

Untuk menanggulangi kekerasan suporter, kepolisian menerapkan berbagai upaya preventif dan represif, termasuk pengamanan tertutup dan terbuka, pengendalian massa, serta proses penyidikan. Koordinasi antara operator liga, pemerintah daerah, dan pihak keamanan juga dianggap krusial untuk memastikan kelayakan stadion dan jalur evakuasi, serta membuat nota kesepahaman yang jelas tentang peran masing-masing pihak dalam mengelola pertandingan. Kabid Humas Polda Jabar Komisaris Besar Hendra Rochmawan sebelumnya telah mengingatkan suporter untuk menjaga kondusivitas di media sosial dan menghindari provokasi atau ujaran kebencian yang dapat memicu konflik antarsuporter, terutama mengingat ketatnya persaingan di papan atas Super League. Insiden di Depok ini menjadi pengingat pahit bahwa rivalitas yang berlebihan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi ekosistem sepak bola Indonesia, membutuhkan komitmen berkelanjutan dari semua pihak—klub, suporter, otoritas liga, dan aparat keamanan—untuk menciptakan iklim kompetisi yang aman dan menjunjung tinggi sportivitas.