Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dampak Banjir Kudus: Permukiman Warga hingga Kompleks Makam Sunan Kudus Terendam

2026-01-10 | 03:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T20:08:55Z
Ruang Iklan

Dampak Banjir Kudus: Permukiman Warga hingga Kompleks Makam Sunan Kudus Terendam

Ratusan rumah warga di Desa Singocandi, Kecamatan Kota Kudus, Jawa Tengah, terendam banjir setinggi hingga satu meter pada Jumat malam, 9 Januari 2026, menyusul jebolnya tembok pembatas dan luapan air dari Sungai Gelis. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang rutin melanda kawasan Kudus, termasuk mengancam situs-situs bersejarah vital seperti Masjid dan Makam Sunan Kudus yang berada di wilayah Kota Kudus yang sama.

Luapan Sungai Gelis, yang dipicu oleh peningkatan debit air signifikan, menyebabkan air dengan cepat memasuki permukiman penduduk di Singocandi. Selain di Singocandi, peningkatan debit air Sungai Gelis juga terpantau di beberapa titik lain di Kecamatan Kota Kudus, seperti Dukuh Kuanaran Kelurahan Kajeksan, kawasan Jembatan Taman Siswa, Desa Demangan, Desa Demaan RT 4 RW 5, dan Kelurahan Sunggingan, meskipun kondisi permukiman warga di lokasi tersebut masih terpantau aman dari genangan langsung.

Kudus secara historis merupakan daerah rawan banjir, dengan bencana serupa yang berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada Februari 2025, misalnya, banjir menerjang 40 desa di enam kecamatan, yakni Kaliwungu, Jekulo, Mejobo, Undaan, Bae, dan Jati, dengan total 16.185 Kepala Keluarga (KK) atau 64.737 jiwa terdampak. Ketinggian air saat itu mencapai 20-120 sentimeter, bahkan mengganggu lalu lintas di jalur Semarang-Surabaya sepanjang 5 kilometer. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Mundir, pada Februari 2025 menyatakan banjir disebabkan oleh hujan deras berintensitas tinggi. Lebih lanjut, pada Maret 2024, banjir meluas hingga 29 desa di lima kecamatan, merendam 6.505 rumah warga, dan menyebabkan enam korban jiwa akibat tenggelam serta satu korban tersengat listrik.

Kompleks Masjid dan Makam Sunan Kudus, sebuah situs warisan budaya dan religi yang sangat penting, berlokasi di Kauman, Kecamatan Kota Kudus. Meskipun belum ada laporan spesifik mengenai genangan langsung di area inti kompleks Sunan Kudus dalam insiden 9 Januari 2026, lokasinya yang berada di kecamatan yang sama dengan Singocandi mengindikasikan kerentanan terhadap ancaman banjir serupa, terutama jika luapan sungai-sungai utama di Kudus tidak tertangani secara komprehensif.

Penyebab utama banjir yang melanda Kudus setiap tahun adalah curah hujan yang tinggi yang menyebabkan peningkatan debit air di sejumlah sungai seperti Sungai Wulan, Sungai Dawe, Sungai Nolo, Sungai Piji, dan Sungai Gelis. Selain itu, penggundulan hutan di wilayah pegunungan juga berkontribusi pada banjir bandang karena air tidak terserap ke tanah melainkan langsung mengalir ke sungai.

Pemerintah Kabupaten Kudus, bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pusat, terus berupaya melakukan mitigasi bencana. Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, pada Februari 2025 telah menyalurkan bantuan senilai Rp382,5 juta untuk penanganan dampak banjir di Kudus, yang mencakup logistik, dapur umum, obat-obatan, dan beras. Upaya mitigasi jangka panjang meliputi normalisasi sungai dan pembangunan kolam retensi. Pengerjaan kolam retensi di Desa Jati Wetan dan normalisasi Sungai Wulan yang melintasi Kudus, Demak, dan Jepara telah dilakukan. Pada September 2025, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris memastikan perawatan infrastruktur pengendali air seperti pintu air Tanggulangin dan kolam retensi Jati telah berfungsi 100 persen dan siap dimaksimalkan dalam pengendalian banjir. Normalisasi Sungai Wulan ditargetkan selesai pada tahun 2026.

Namun, tantangan tetap besar. Penanganan banjir dinilai lamban oleh pemerintah daerah, dengan Bupati Kudus pernah menagih janji keseriusan pemerintah pusat, terutama terkait ketersediaan dana pinjaman dari ADB untuk penggantian pompa air baru berkapasitas 5.000 liter per detik dan pembangunan kolam retensi di sepanjang tanggul Sungai Wulan. Kerugian akibat banjir tidak hanya terbatas pada permukiman, tetapi juga meliputi ribuan hektare lahan sawah yang gagal panen. Kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, dan masyarakat menjadi krusial untuk menghadapi ancaman banjir yang terus membayangi wilayah Kudus.