:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468677/original/076193300_1767968768-Evakuasi_dua_balita_di_Bogor_tertimbun_longsor.jpg)
Dua balita, Rasyid (5) dan Fadil (4), nyaris kehilangan nyawa setelah tertimbun material longsor saat sedang bermain di dalam kamar rumah kakek mereka, Abudin (60), di Kampung Pabuaran, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat sore, 9 Januari 2026. Peristiwa nahas yang terjadi sekitar pukul 16.45 WIB ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam, menyebabkan tebing setinggi empat meter di belakang rumah longsor dan menyeret bonggol bambu hingga menimpa bangunan di bawahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadi Sasongko, menjelaskan bahwa kedua bocah tersebut tertimbun material longsoran dan sempat terjepit. Rasyid (5) berhasil dievakuasi lebih dahulu oleh warga setempat, sementara Fadil (4) membutuhkan upaya lebih dari tim SAR gabungan karena terimpit bonggol bambu, namun akhirnya berhasil diselamatkan sekitar 30 menit kemudian. Keduanya ditemukan dalam kondisi sadar tetapi syok, dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Ummi Bogor untuk mendapatkan penanganan medis. Berdasarkan pemeriksaan awal, mereka hanya mengalami luka ringan berupa lecet, namun masih menjalani observasi lanjutan. Muhamad Muhtar, paman kedua korban, juga mengalami luka saat membantu proses evakuasi.
Abudin, sang kakek, menceritakan detik-detik mencekam saat kejadian. Ia baru saja tiba di rumah ketika longsor terjadi. Material longsoran, termasuk pohon bambu, menghantam kamar tempat kelima cucunya bermain. Tiga cucu lainnya sempat menyelamatkan diri, namun Rasyid dan Fadil tidak sempat menghindar karena posisi mereka tertimbun. Kondisi rumah Abudin saat ini tidak aman untuk ditinggali, sehingga seluruh penghuninya telah dievakuasi ke rumah kontrakan sementara yang disiapkan oleh BPBD Kota Bogor.
Insiden ini menyoroti kerentanan Kota Bogor, khususnya wilayah selatan, terhadap bencana longsor. Jawa Barat, sebagai provinsi dengan jumlah kejadian longsor terbanyak di Indonesia, menghadapi tantangan geografis berupa perbukitan dan curah hujan tinggi yang signifikan. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan bahwa Kabupaten Bogor mencatat 1.122 kasus bencana pada tahun 2021, dengan 514 di antaranya adalah tanah longsor. Ahli geologi Universitas Pakuan, Denny Sukamto Kadarisman, pada insiden longsor sebelumnya di Bogor, menjelaskan bahwa resapan air yang membuat lapisan tanah lapuk serta kondisi geologi dengan lapisan tanah tebal yang mudah roboh menjadi faktor utama. Kondisi tanah yang mengembang akibat hujan deras dan keberadaan vegetasi seperti bambu, yang meskipun akarnya dapat menahan tanah, dalam kondisi tertentu justru dapat menjadi beban tambahan saat lereng tidak stabil, turut berkontribusi pada kejadian longsor serupa.
Meskipun berbagai program penghijauan dan pemanfaatan data kebencanaan telah dijalankan, upaya mitigasi longsor di Jawa Barat dinilai masih belum menunjukkan arah yang jelas dalam menurunkan risiko bencana secara nyata. Analisis dari sejumlah pengamat menunjukkan bahwa pendekatan mitigasi seringkali disederhanakan pada indikator visual tanpa diiringi analisis teknis mendalam seperti perhitungan Safety Factor (SF) yang mengukur stabilitas lereng. BPBD Jawa Barat juga dinilai belum mampu mengoptimalkan analisis data kebencanaan sebagai dasar pengambilan keputusan pencegahan dan pengurangan risiko, terutama dalam pengendalian tata ruang dan penanganan lereng rawan.
Tragedi yang menimpa keluarga Abudin ini menjadi pengingat pahit akan urgensi penguatan strategi mitigasi bencana di wilayah rawan longsor di Jawa Barat. Pergeseran fokus dari respons pasca-bencana ke pencegahan proaktif yang didasarkan pada analisis geologi dan geoteknik yang kuat, serta penegakan tata ruang yang ketat, menjadi krusial untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari ancaman bencana yang terus berulang. Keberlanjutan hunian sementara dan pemulihan psikologis bagi korban juga membutuhkan perhatian jangka panjang.