Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dahsyatnya Pergerakan Tanah di Pamekasan Belah Rumah Warga

2026-01-17 | 18:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T11:26:49Z
Ruang Iklan

Dahsyatnya Pergerakan Tanah di Pamekasan Belah Rumah Warga

Warga di Dusun Panjalin, Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Madura, menghadapi ancaman serius setelah retakan tanah yang terus meluas menyebabkan sejumlah rumah mereka terbelah dan tidak layak huni sejak beberapa waktu lalu. Insiden ini, yang memuncak pada awal tahun 2024 setelah intensitas hujan tinggi, memaksa puluhan jiwa mengungsi dan menyoroti kerentanan geologis wilayah tersebut terhadap pergerakan tanah.

Pergerakan tanah masif ini telah merusak setidaknya lima rumah warga secara signifikan, dengan dinding retak parah, lantai ambles, dan struktur bangunan yang terpisah hingga lebih dari 30 sentimeter. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pamekasan, Akhmad Dhofir, mengonfirmasi bahwa timnya telah melakukan asesmen di lokasi kejadian dan merekomendasikan evakuasi total bagi warga yang terdampak, mengingat potensi bahaya lanjutan. Retakan tanah yang terlihat di permukaan mencapai panjang puluhan meter dan lebar bervariasi, mengindikasikan pergerakan massa tanah yang substansial.

Fenomena tanah bergerak di Pamekasan bukanlah hal baru, namun kejadian kali ini menunjukkan skala kerusakan yang lebih parah. Pakar geologi dari Universitas Trunojoyo Madura, Dr. Ir. Hery Purnobasuki, M.Sc., menjelaskan bahwa Pamekasan, khususnya di beberapa kecamatan seperti Pegantenan, memiliki karakteristik tanah lempung yang cenderung labil dan mudah bergerak, terutama saat jenuh air. Kondisi topografi perbukitan dan curah hujan ekstrem menjadi kombinasi mematikan yang memicu destabilisasi lereng.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui BPBD telah mendistribusikan bantuan logistik dan mendirikan posko pengungsian darurat. Namun, solusi jangka panjang masih menjadi tantangan. Beberapa warga yang rumahnya terbelah kini harus menumpang di rumah kerabat atau memilih bertahan di posko pengungsian karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Rusdi, salah seorang warga terdampak, mengungkapkan kekhawatirannya akan masa depan mereka. "Kami tidak tahu harus ke mana lagi. Rumah sudah tidak bisa ditempati, harta benda sebagian tertimbun. Kami hanya bisa berharap ada solusi permanen dari pemerintah," ujarnya.

Ancaman pergerakan tanah ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa dan harta benda, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah tersebut. Pembangunan infrastruktur dan permukiman di zona-zona rawan pergerakan tanah perlu dikaji ulang secara komprehensif. Otoritas setempat didesak untuk berkolaborasi dengan ahli geologi guna memetakan secara detail zona-zona rawan bencana, serta mengedukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal pergerakan tanah dan langkah mitigasi yang harus diambil. Tanpa langkah proaktif dan terintegrasi, insiden serupa dengan potensi kerusakan yang lebih besar akan terus membayangi warga Pamekasan yang tinggal di wilayah berisiko tinggi.