Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Situbondo Lumpuhkan 5 Kecamatan dan Jalur Pantura

2026-01-22 | 01:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T18:59:44Z
Ruang Iklan

Banjir Situbondo Lumpuhkan 5 Kecamatan dan Jalur Pantura

Ratusan rumah di lima kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terendam banjir pada Rabu, 21 Januari 2026, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari, mengakibatkan lumpuhnya total jalur Pantai Utara (Pantura) yang vital menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Genangan air setinggi 30 hingga 70 sentimeter serta material batu dan pasir menutupi badan jalan, memicu kemacetan panjang dan menghentikan arus lalu lintas.

Banjir kali ini melanda Kecamatan Banyuglugur, Besuki, Mlandingan, Bungatan, dan Kendit, merendam tidak hanya pemukiman warga tetapi juga minimarket berjaringan hingga kantor Camat Bungatan. Di beberapa titik, ketinggian air bahkan mencapai dada orang dewasa, seperti yang dilaporkan di kawasan Besuki. Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Situbondo, Puriyono, mengonfirmasi bahwa banjir ini disebabkan oleh jebolnya tanggul aliran sungai di Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, sekitar pukul 19.30 WIB. Material batu dan pasir yang terbawa arus deras sungai dari pegunungan menumpuk di jalur Pantura, sehingga melumpuhkan akses.

Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Timbul Surianto, mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di sekitar sungai serta jembatan. Pihaknya juga meminta masyarakat segera mengamankan barang-barang berharga dan dokumen penting. Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, saat meninjau lokasi tanggul jebol di Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, menyerukan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem dan memastikan Pemkab Situbondo terus memantau curah hujan. Kasatlantas Polres Situbondo, AKP Nanang Hendra Irawan, menyatakan petugas kepolisian telah diterjunkan ke lapangan dari Banyuglugur hingga kota untuk mengatur arus lalu lintas dan memastikan keselamatan pengendara, meskipun lalu lintas berangsur bisa dilalui dengan perlahan. Pengguna jalan dari arah Surabaya maupun Banyuwangi diimbau untuk putar balik atau menepi demi keselamatan, karena jalur Pantura masih terendam air bercampur material.

Insiden jebolnya tanggul dan genangan di jalur Pantura Situbondo bukanlah kejadian baru. Situbondo, yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa, secara historis rentan terhadap banjir, terutama selama musim penghujan antara November hingga Maret. Data historis menunjukkan wilayah ini dapat mengalami banjir tiga hingga lima kali dalam setahun. Curah hujan tinggi, pengelolaan drainase yang tidak optimal, dan perubahan penggunaan lahan dari pertanian menjadi permukiman atau industri yang mengurangi area resapan air, adalah faktor-faktor utama penyebab banjir di daerah ini. Selain itu, letak geografis Situbondo yang dekat dengan laut juga membuatnya rentan terhadap banjir rob.

Banjir pada Februari 2025 lalu, misalnya, telah merendam 1.280 rumah di tiga kecamatan dan menyebabkan kerugian material mencapai Rp 52 miliar, memaksa Pemerintah Kabupaten Situbondo menetapkan status darurat bencana. Kondisi berulang ini mengindikasikan adanya masalah struktural yang memerlukan penanganan komprehensif, tidak hanya respons situasional. Minimnya kapasitas sungai menampung debit air yang berlebihan akibat hujan deras ditambah kerusakan tanggul yang kambuh setiap tahun menjadi tantangan serius bagi pembangunan infrastruktur dan mitigasi bencana di Situbondo. Langkah-langkah jangka panjang termasuk perbaikan sistem drainase, restorasi daerah aliran sungai, dan peninjauan kembali tata ruang wilayah, menjadi krusial untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan dan memastikan keberlanjutan ekonomi serta keselamatan warga di sepanjang jalur Pantura.