:strip_icc()/kly-media-production/medias/3176861/original/059460500_1594460731-080457900_1594372867-20200710-Kereta-Jarak-Jauh-1.jpg)
Seorang perempuan berusia 18 tahun, diidentifikasi sebagai Aisyah, meninggal dunia setelah diduga melompat ke rel kereta api saat Kereta Api Gajayana melintas di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Rabu sore, 21 Januari 2026, sekitar pukul 17.50 WIB. Insiden tragis ini menambah daftar panjang kasus individu yang mengakhiri hidupnya di jalur kereta api di Indonesia, memicu kembali diskusi mengenai kesehatan mental dan keamanan di lingkungan stasiun.
Kronologi kejadian menunjukkan Aisyah melakukan tindakan berbahaya tersebut dari Peron 1 Stasiun Gondangdia saat rangkaian Kereta Api (KA) Gajayana dengan relasi Malang-Gambir sedang melintas. Petugas Pengamanan Stasiun Gondangdia yang sedang bertugas di peron tersebut menyaksikan langsung aksi korban. Setelah kejadian, petugas stasiun segera menuju lokasi di ujung Peron 1 untuk melakukan evakuasi. Pemeriksaan awal dilakukan di Pos Kesehatan Stasiun Gondangdia sebelum korban dilarikan ke Rumah Sakit PGI Cikini karena mengalami luka serius. Namun, Aisyah dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pihak keluarga korban dilaporkan telah mendampingi sejak penanganan pertama di pos kesehatan stasiun dan melanjutkan pendampingan saat evakuasi menuju rumah sakit.
Vice President Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, membenarkan insiden ini, menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi. Karina menjelaskan bahwa korban diduga melompat ke jalur rel saat kereta api jarak jauh melintas. KAI Commuter secara konsisten mengimbau seluruh pengguna kereta untuk selalu mengutamakan keselamatan dan ketertiban, termasuk tidak berdiri melewati garis aman saat menunggu perjalanan kereta di peron. Kepala Stasiun Gondangdia, Satia Tarta Gunada, juga mengonfirmasi kejadian tersebut.
Fenomena individu yang nekat mengakhiri hidup di jalur kereta api bukan kali pertama terjadi di Jakarta maupun daerah lain di Indonesia. Kasus serupa pernah dilaporkan di perlintasan rel Senen, Jakarta Pusat, pada Juli 2023, serta di beberapa wilayah seperti Probolinggo dan Sidoarjo. Psikolog RSUD dr. Moh. Saleh Probolinggo, Maria Manna, menyoroti bahwa sebagian besar kasus bunuh diri dipicu oleh depresi, yang dapat menyerang siapa pun tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar dapat memperburuk kondisi mental individu yang merasa sendirian dalam menghadapi tekanan hidup.
Insiden di Stasiun Gondangdia ini menjadi pengingat kritis akan pentingnya peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental di masyarakat urban yang padat. Selain itu, upaya sterilisasi area di sekitar rel kereta api, serta pengawasan yang lebih ketat di stasiun-stasiun, menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan KAI Commuter secara berkelanjutan mengingatkan masyarakat akan bahaya berada di jalur kereta api di luar kepentingan operasional, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2017 tentang Perkeretaapian. Kolaborasi antara penyedia layanan transportasi, pemerintah, dan komunitas kesehatan mental diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung individu yang rentan.