:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472082/original/023837200_1768310196-WhatsApp_Image_2026-01-13_at_19.55.11.jpeg)
Genangan banjir setinggi hingga 30 sentimeter melumpuhkan sebagian jalur Pantai Utara (Pantura) Pati-Rembang, tepatnya di kawasan pertigaan Widorokandang, Desa Widorokandang, Kecamatan Pati, pada Selasa (13/1/2026), memicu kemacetan parah yang mengular sekitar tiga kilometer dari arah Rembang atau Juwana menuju Kota Pati. Insiden ini, yang diperparah oleh luapan Sungai Simo dan kondisi jalan berlubang yang tertutup air, secara signifikan mengganggu mobilitas kendaraan, terutama truk berat dan bus, serta menyebabkan kerugian ekonomi yang substansial di sektor perikanan.
Kepadatan lalu lintas terpantau sangat signifikan, khususnya bagi kendaraan non-golongan satu yang mendominasi jalur tersebut. Kasat Lantas Polresta Pati, Kompol Riki Fahmi Mubarok, menyatakan bahwa perlambatan arus dipicu oleh luapan air sungai yang meluber ke badan jalan, ditambah adanya lubang-lubang jalan yang tidak terlihat di bawah genangan. Satlantas Polresta Pati telah memberlakukan rekayasa lalu lintas terbatas, mengalihkan kendaraan dari arah timur ke Jalur Lingkar Selatan, meskipun jalur alternatif Batangan atau Simpang Tiga Sampang menuju Jakenan hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua dan golongan satu. Kendaraan berat tetap harus melintasi Pantura. Yusuf, salah seorang pengendara sepeda motor, menceritakan pengalamannya terjebak macet hingga tiga kilometer dari Sampang dan motornya mogok karena terperosok lubang di tengah genangan air yang cukup dalam.
Banjir di Pantura Pati merupakan masalah berulang yang berakar pada kondisi geografis dan hidrologis wilayah tersebut. Secara historis, kawasan pesisir utara Jawa, termasuk jalur Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang, dahulu merupakan daerah rawa-rawa atau selat yang memisahkan Pulau Muria dari Pulau Jawa sebelum abad ke-17, menjadikannya rentan terhadap genangan dan kondisi tanah yang tidak stabil. Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetyo, menyoroti sedimentasi parah di bawah jalur Pantura sebagai penyebab utama genangan, yang menghambat aliran air sungai menuju Sungai Juwana. Ia menekankan perlunya koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Jalan, untuk penanganan permanen yang melibatkan pembukaan gorong-gorong dan pembersihan sedimentasi.
Di luar dampak langsung pada lalu lintas, banjir ini juga memukul sektor perikanan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengungkapkan bahwa 1.200 hektare tambak ikan nila salin terendam dan rusak, mengakibatkan kerugian mencapai Rp17 miliar. Hadi menyebutkan bahwa tambak yang paling parah terdampak berada di Kecamatan Margoyoso, dengan kerugian menembus Rp7 miliar lebih. Genangan juga meluas ke permukiman, seperti di Desa Kedungpancing Juwana, di mana ratusan kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air mencapai perut orang dewasa di beberapa titik.
Pemerintah Kabupaten Pati dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengambil langkah tanggap darurat dan merencanakan solusi jangka panjang. Bupati Pati Sudewo menegaskan perbaikan jalur vital menjadi prioritas utama untuk memulihkan aktivitas ekonomi warga. Sudewo juga menyatakan bahwa pada tahun anggaran 2026, Pemkab Pati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) akan menganggarkan pembelian dua unit ekskavator untuk normalisasi sungai dan satu alat berat tambahan untuk penataan bahu jalan. Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, memperingatkan bahwa Januari dan Februari 2026 merupakan puncak cuaca ekstrem di Pantura timur, menandakan perlunya kewaspadaan berkelanjutan di wilayah rawan banjir dan tanah longsor seperti Pati, Kudus, Jepara, hingga Rembang. Ketua DPRD Pati, Ali Badrudin, mendorong normalisasi sungai dan perbaikan drainase sebagai upaya mitigasi bencana yang komprehensif. Respons cepat dari Pemprov Jateng juga mencakup pendistribusian logistik untuk warga terdampak serta penataan alur sungai dan penguatan infrastruktur di kawasan Pantura timur.