:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474723/original/064534100_1768533018-Rel_kereta_di_Kendal_terendam_air.jpg)
Perjalanan kereta api di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah sempat terhenti total dan mengalami keterlambatan signifikan pada Jumat dini hari, 16 Januari 2026, setelah luapan air akibat hujan deras sejak Kamis malam merendam dan menyebabkan erosi parah pada rel di Kabupaten Kendal. Insiden ini secara langsung mengganggu konektivitas vital antara barat dan timur Pulau Jawa, menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) mengonfirmasi bahwa jalur antara Stasiun Kaliwungu dan Stasiun Kalibodri, tepatnya di jembatan atau Bangunan Hikmat (BH) 111 Km 20+7/8, terendam air hingga batas kepala rel, memicu terjadinya "gogosan" atau erosi pada badan jalur. Kondisi ini memaksa penghentian sementara seluruh perjalanan kereta api dari kedua arah demi keselamatan penumpang. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan, "Penghentian sementara perjalanan dilakukan sebagai langkah pengamanan. Keselamatan pelanggan dan perjalanan kereta api menjadi prioritas utama."
Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menjelaskan bahwa luapan air mengakibatkan gogosan di petak jalan tersebut. Sekitar 18 perjalanan kereta api penumpang antarkota terdampak, dengan keterlambatan bervariasi antara 8 menit hingga sekitar 2,5 jam. Beberapa kereta api yang mengalami keterlambatan signifikan antara lain KA Kertajaya yang tertunda 132 menit (sekitar 2 jam), KA Joglosemarkerto 123 menit, dan KA Argo Sindoro 90 menit. Keterlambatan juga berimbas pada jadwal keberangkatan kereta api selanjutnya, bahkan menyebabkan sembilan perjalanan kereta api mengalami keterlambatan kedatangan di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir Jakarta dengan rentang 120 hingga 280 menit. Sebagai bentuk tanggung jawab, KAI menawarkan opsi pembatalan tiket dengan pengembalian dana 100 persen bagi pelanggan yang terdampak keterlambatan lebih dari satu jam.
Curah hujan deras yang mengguyur wilayah Pantura Jawa Tengah sejak Kamis siang, 15 Januari 2026, menjadi pemicu utama banjir yang merendam enam kecamatan di Kabupaten Kendal, yaitu Ngampel, Pegandon, Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, dan Kendal Kota. Ketinggian genangan air di pemukiman warga mencapai 20 hingga 60 sentimeter. Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, mengungkapkan bahwa banjir terjadi akibat meluapnya sejumlah sungai, termasuk Sungai Waridin, dan kondisi ini diperparah dengan pasang air laut (rob) yang menghambat aliran sungai menuju laut. Meskipun tidak setinggi banjir tahun sebelumnya, Iwan mengkhawatirkan kondisi dapat memburuk mengingat intensitas hujan yang masih tinggi.
Jalur kereta api antara Stasiun Kaliwungu dan Kalibodri berhasil dilintasi kembali pada Jumat dini hari setelah curah hujan mereda dan perbaikan awal dilakukan oleh petugas KAI. Namun, kereta api yang melintas masih diberlakukan pembatasan kecepatan maksimal antara 30 hingga 40 kilometer per jam sebagai langkah mitigasi keselamatan. Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi. Banjir telah berulang kali mengganggu operasional kereta api di Jawa Tengah, termasuk di Grobogan dan Semarang, menunjukkan adanya masalah sistemik terkait drainase dan kapasitas sungai.
Implikasi jangka panjang dari insiden berulang semacam ini mencakup gangguan serius terhadap logistik dan mobilitas regional. Jalur Pantura merupakan koridor ekonomi vital yang menghubungkan sentra produksi dan konsumsi di Jawa. Frekuensi banjir yang memicu kerusakan infrastruktur dan penundaan perjalanan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi efisiensi transportasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelumnya telah mendorong solusi permanen untuk rel kereta yang terdampak banjir, menekankan perlunya kolaborasi antara PT KAI dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk pengerukan sungai dan perbaikan sistem drainase. Upaya mitigasi komprehensif, termasuk peninggian jalur rel di titik rawan dan pengembangan sistem peringatan dini, menjadi krusial untuk memastikan keberlangsungan layanan kereta api yang andal dan aman di tengah tantangan iklim yang terus berubah. Kelambanan dalam mengatasi akar masalah ini dapat terus membebani ekonomi daerah dan mengurangi kepercayaan publik terhadap infrastruktur transportasi.