:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470548/original/093400200_1768209884-jem5.jpg)
Hujan berintensitas tinggi sejak Senin dini hari, 12 Januari 2026, memicu banjir yang merendam sembilan Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Utara dan memaksa 282 warga mengungsi ke tempat penampungan sementara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaporkan, genangan tertinggi mencapai 60 sentimeter di Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, tempat 257 jiwa dari 256 kepala keluarga dievakuasi. Sementara itu, 25 warga dari 12 kepala keluarga di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, juga mengungsi akibat genangan air setinggi 15 sentimeter.
Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, mengonfirmasi titik-titik pengungsian tersebar di fasilitas publik seperti Masjid Jamii Ar Ridho, Mushola Jamiyatul, Mushola Al Ikhlas, Kantor RW, dan SDN 05 Kebon Bawang di Kebon Bawang, serta Masjid Al Barokah dan Sekretariat RW 05 di Lagoa. Kondisi banjir ini merupakan bagian dari genangan yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta setelah curah hujan ekstrem. Total lebih dari seribu warga di seluruh Jakarta terpaksa mengungsi pada hari yang sama.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merespons cepat dengan mengerahkan personel gabungan dari BPBD, Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat). Upaya penanganan berfokus pada penyedotan air genangan dan memastikan saluran air berfungsi optimal. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa 1.200 unit pompa air, terdiri dari 600 pompa portabel dan 600 pompa mobile, telah disiagakan di titik-titik rawan banjir untuk mempercepat surutnya genangan. Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat, juga menegaskan Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Utara telah menyiagakan 50 stasiun pompa yang tersebar di 17 rumah pompa dan 16 unit pompa bergerak.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara, Heria Suwandi, menjelaskan bahwa banjir kali ini murni disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang merata di seluruh kecamatan Jakarta Utara, dengan intensitas hujan mencapai lebih dari 150 milimeter, melebihi kapasitas infrastruktur drainase yang ada. Heria Suwandi secara spesifik membantah bahwa banjir tersebut disebabkan oleh pasang air laut (rob), meskipun Jakarta Utara rentan terhadap fenomena tersebut. Namun demikian, Endriansah, Ketua Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), mengkritik kinerja Dinas SDA DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ika Agustin Ningrum, menyatakan bahwa jumlah titik banjir justru bertambah dalam tiga tahun terakhir meskipun anggaran pengendalian banjir mencapai triliunan rupiah setiap tahun.
Fenomena banjir di Jakarta, terutama di musim hujan, bukan merupakan kejadian sporadis, melainkan masalah sistemik yang diperparah oleh berbagai faktor. Ahli hidrologi dan dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), M. Pramono Hadi, pernah mengemukakan bahwa penyebab utama banjir adalah hujan yang merata dengan volume besar, yang kondisi "surface storage" sudah jenuh dengan air. Sementara itu, Pakar Tata Kelola Air dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, pada kesempatan terpisah mengindikasikan banjir menunjukkan sistem drainase kota tidak berfungsi dengan baik. Topografi Jakarta sebagai dataran rendah, dikombinasikan dengan laju penurunan muka tanah (land subsidence) yang signifikan di wilayah utara kota, menambah kerentanan terhadap genangan, termasuk potensi intrusi air laut saat rob terjadi. Pembangunan fisik yang masif juga mengurangi daerah resapan air, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke permukaan jalan dan saluran yang seringkali tidak memadai.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimplementasikan sejumlah strategi mitigasi jangka pendek dan menengah, seperti program "Gerebek Lumpur" untuk pengerukan sampah dan lumpur, serta pembangunan drainase vertikal (sumur resapan). Namun, tantangan jangka panjang, termasuk normalisasi sungai-sungai utama seperti Kali Sunter dan Kali Ciliwung, tetap menjadi prioritas yang membutuhkan waktu dan upaya kolosal. Kesiapsiagaan masyarakat juga terus diimbau, dengan layanan darurat 112 yang siaga 24 jam untuk pelaporan kondisi mendesak.