Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Bandang Sitaro Sulut Renggut 17 Nyawa, 682 Warga Mengungsi, Luluh Lantakkan 141 Rumah

2026-01-07 | 18:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T11:18:07Z
Ruang Iklan

Banjir Bandang Sitaro Sulut Renggut 17 Nyawa, 682 Warga Mengungsi, Luluh Lantakkan 141 Rumah

Puluhan jiwa melayang dan ratusan lainnya harus mengungsi setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin dini hari, 5 Januari 2026. Data terbaru per Rabu, 7 Januari 2026, menunjukkan 17 orang meninggal dunia, 2 orang masih dinyatakan hilang, dan 682 warga terpaksa mengungsi mencari keselamatan. Bencana hidrometeorologi ini juga mengakibatkan 141 rumah mengalami kerusakan serius, serta melumpuhkan sejumlah infrastruktur vital di wilayah kepulauan tersebut.

Curah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Pulau Siau selama lebih dari lima jam tanpa henti menjadi pemicu utama datangnya bah. Air bah bercampur material batuan, lumpur, tanah, dan pepohonan dengan cepat meluap dari aliran sungai dan menghantam permukiman warga di empat kecamatan: Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa material batuan dan lumpur memenuhi jalanan dan meluber hingga ke bangunan warga.

Akademisi Agus Santoso Budiharso, Dosen Teknik Geologi Universitas Prisma, menjelaskan bahwa kondisi geografis Pulau Siau yang didominasi lereng curam Gunung Karangetang dengan jaringan sungai pendek, sempit, dan berkemiringan tajam, memperparah dampak banjir bandang. Air hujan dari puncak dan lereng atas terkonsentrasi dan mencapai permukiman di kaki gunung dalam waktu singkat. "Pada hujan ekstrem, tanah vulkanik yang cepat jenuh air justru dapat kehilangan kekuatan gesernya," ujar Agus, menambahkan bahwa akar pohon bisa tercabut, lalu batang kayu, batuan, serta material vulkanik ikut terangkut bersama aliran air dan membentuk debris flow yang sangat destruktif.

Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan 22 orang luka-luka, dengan dua di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk penanganan medis lanjutan. Infrastruktur mengalami kerusakan parah; tujuh unit rumah hanyut terbawa arus, 29 unit rusak berat, dan 112 unit lainnya rusak ringan. Akses jalan utama di beberapa wilayah terputus akibat tertutup material longsor, serta jaringan listrik dan telekomunikasi sempat terganggu, menghambat upaya koordinasi dan penanganan darurat. Markas Komando Polres Kepulauan Sitaro bahkan dilaporkan tertimbun material berupa bebatuan, tanah, dan pepohonan, merusak sekitar 50% fasilitas gedung.

Menanggapi skala bencana ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 5 Januari hingga 18 Januari 2026, sesuai Keputusan Bupati Nomor 1 Tahun 2026. Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, menegaskan bahwa penetapan status darurat ini adalah langkah cepat dan terkoordinasi untuk melindungi keselamatan masyarakat serta meminimalkan dampak bencana.

Tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, dan relawan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian korban hilang, evakuasi warga terdampak, dan pendataan kerusakan. Kementerian Pekerjaan Umum juga mengirimkan personel dan menyiagakan alat berat, termasuk dua unit di lapangan dan tiga unit ekskavator tambahan dari Manado, untuk mempercepat pembersihan material bencana dan pembukaan akses jalan. Bantuan darurat berupa logistik dasar, kebutuhan bayi, lansia, pakaian, kasur, dan makanan juga telah disalurkan kepada para pengungsi. Abdul Muhari dari BNPB menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Bencana banjir bandang di Sitaro menyoroti kerentanan wilayah kepulauan vulkanik terhadap fenomena hidrometeorologi ekstrem. Ekonomi lokal yang didominasi sektor pertanian, khususnya kelapa dan pala, menghadapi risiko besar karena kerusakan lahan dan akses pasar. Implikasi jangka panjang memerlukan penguatan strategi mitigasi berbasis karakteristik wilayah, termasuk pemetaan risiko berkala, penguatan infrastruktur tangguh bencana, pendidikan dan kesadaran masyarakat, serta pengembangan sistem peringatan dini yang lebih efektif. Dengan proyeksi cuaca yang masih menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di seluruh wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, upaya rehabilitasi dan pemulihan kehidupan sosial-ekonomi di Sitaro menjadi tantangan krusial yang membutuhkan koordinasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.