Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Anyer Lumpuhkan Akses Wisata dan Situs Makam Sultan Banten

2026-01-03 | 15:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T08:41:30Z
Ruang Iklan

Banjir Anyer Lumpuhkan Akses Wisata dan Situs Makam Sultan Banten

Banjir besar yang dipicu hujan intensitas tinggi sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 telah melumpuhkan akses vital menuju kawasan wisata Pantai Anyer di Cilegon dan merendam sebagian Kompleks Makam Sultan Banten di Kota Serang, Provinsi Banten. Genangan air setinggi puluhan sentimeter hingga mencapai setengah badan mobil memutus total Jalan Lingkar Selatan (JLS) Cilegon pada Jumat, 2 Januari 2026, menghambat mobilitas wisatawan dan aktivitas industri di sekitarnya. Sementara itu, kawasan bersejarah di sekitar Masjid Agung Banten dan area pemakaman para Sultan turut tergenang pada tanggal yang sama, memaksa warga mengungsi dan menimbulkan kerugian signifikan.

Peristiwa ini menandai rentetan banjir yang secara berulang melanda wilayah pesisir Banten, khususnya Cilegon dan Serang, menjelang pergantian tahun. Pada Senin, 29 Desember 2025, Jalan Raya Anyer di kawasan Gunung Kendeng, Ciwandan, Cilegon, terendam air setinggi 50 hingga 60 sentimeter atau sebatas lutut orang dewasa, membuat kendaraan roda dua kesulitan melintas dan memicu kemacetan panjang. Kondisi diperparah oleh genangan di Jalan Lingkar Selatan Cilegon yang mencapai hampir setengah tinggi mobil, menyebabkan akses utama dari dan menuju Anyer lumpuh total pada Jumat, 2 Januari 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, memastikan bahwa Jalan Lingkar Selatan Cilegon, khususnya di wilayah Cigading-Ciwandan, tidak dapat dilalui kendaraan akibat banjir. Lutfi menjelaskan, faktor utama di balik banjir berulang ini adalah buruknya sistem drainase serta minimnya jalur pembuangan air yang memadai di kawasan tersebut. Selain itu, derasnya aliran air juga disebabkan oleh luapan Sungai Cibanteng dan Sungai Cikalumpang akibat curah hujan tinggi, diperparah oleh aktivitas industri yang menutup jalur pembuangan air alami ke laut. Fenomena pasang air laut atau banjir rob juga menjadi pemicu di wilayah pesisir.

Di Kota Serang, banjir juga merendam kawasan Kasemen, termasuk halaman Masjid Agung Banten dan area pemakaman di sekitarnya, dengan ketinggian air mencapai 10 hingga 45 sentimeter pada Jumat malam, 2 Januari 2026. Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, melaporkan bahwa banjir di Kasemen berdampak pada 417 rumah atau sekitar 1.789 jiwa, sebagian besar di Kelurahan Banten, Lingkungan Sukajaya, dan Komplek Banten. Pemerintah Kota Serang bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Banten tengah berupaya menangani banjir di beberapa titik, termasuk memperbesar dimensi gorong-gorong dan menertibkan bangunan liar yang menghambat aliran air. Wali Kota Serang, Budi Rustandi, bahkan menyampaikan kekesalannya terhadap Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yang dinilai tidak kooperatif dalam menanggapi permintaan perbaikan gorong-gorong di bawah jalan tol yang menjadi penyebab banjir di Kompleks Bumi Agung Permai.

Dampak jangka panjang dari bencana ini melampaui kerugian materiil. Sektor pariwisata Anyer, yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal, mengalami pukulan telak. Pengusaha hotel seperti Doddy Fathurahman, Direktur PT Fave Properti, dan Mulyani, General Manager The Jayakarta Anyer, menyuarakan keprihatinan atas kondisi jalan yang rusak karena dianggap mengurangi kenyamanan wisatawan dan merusak citra destinasi. Peristiwa banjir sebelumnya pada tahun 2013 bahkan menyebabkan penurunan hunian hotel di Anyer hingga 50 persen. Kerugian infrastruktur dan irigasi akibat banjir bandang di Anyer dan Cinangka pada tahun 2016 pernah mencapai Rp 5,5 miliar.

Secara historis, wilayah Banten, khususnya kawasan pesisir dan dataran rendah, memang rentan terhadap banjir. Kombinasi curah hujan ekstrem, pasang air laut, tata ruang yang tidak berkelanjutan, serta penyempitan dan pendangkalan sungai, menjadi faktor pemicu utama. Ahli geomorfologi pesisir dan laut, Dr. Bachtiar W. Mutaqin, menyebutkan kenaikan permukaan air laut, material tanah utara Jawa yang belum solid, banyaknya permukiman, dan penggunaan air tanah sebagai penyebab banjir rob yang kompleks. Penurunan muka tanah atau land subsidence akibat eksploitasi air tanah juga memperparah kondisi.

Menyikapi ancaman berulang ini, pemerintah daerah bersama BPBD telah menyiagakan ratusan personel dan peralatan evakuasi. Gubernur Banten, Andra Soni, telah menginstruksikan pembangunan sodetan atau saluran pengelak sementara serta Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanjang 500 meter untuk mengalirkan air yang tertahan. Namun, penanganan banjir secara komprehensif membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, melibatkan pemerintah, industri, dan masyarakat. Edukasi mengenai pengelolaan sampah yang baik, penataan ruang yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan, serta normalisasi sungai secara berkelanjutan menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan wilayah Banten terhadap bencana hidrometeorologi di masa depan. Tanpa langkah-langkah terpadu, Anyer dan kawasan bersejarah Banten akan terus terancam oleh siklus banjir yang merugikan.