Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Amuk Warga Viral: Damkar Dilempari Batu Diduga Lambat Padamkan Api

2026-01-09 | 23:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T16:18:08Z
Ruang Iklan

Amuk Warga Viral: Damkar Dilempari Batu Diduga Lambat Padamkan Api

Sebuah video yang merekam mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Lampung Barat diduga dilempari dan dipukuli warga menjadi viral pada Kamis, 8 Januari 2026, menyusul insiden kebakaran rumah di Desa Canggu, Kecamatan Batu Brak. Warga menyatakan kekecewaan terhadap petugas karena menilai kedatangan mobil Damkar terlambat, saat api disebut telah mulai padam dan hanya menyisakan puing bangunan. Perekam video dalam rekaman yang beredar luas itu sempat mengatakan, "Mobil damkar sudah datang, tapi rumahnya sudah habis. Enggak ada guna lagi datang ke lokasi kebakaran."

Namun, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus segera membantah narasi tersebut, menegaskan bahwa informasi dalam video itu tidak sepenuhnya akurat dengan kondisi di lapangan. Menurutnya, pernyataan dalam video tersebut merupakan respons spontan akibat kepanikan dan kekhawatiran warga. Perekam video, Hermansyah, kemudian diketahui telah membuat klarifikasi dan permohonan maaf terbuka kepada petugas pemadam kebakaran dan pemerintah daerah atas ucapannya yang dianggap menyesatkan.

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di Sumatera, menandai pola kekecewaan publik yang kadang berujung pada tindakan anarkis terhadap petugas darurat. Pada 1 Mei 2024, sebuah mobil Damkar di Provinsi Bengkulu juga sempat dirusak massa yang marah karena merasa petugas terlambat tiba di lokasi kebakaran, menyebabkan api membesar dan merambat dengan cepat. Di lain waktu, akses jalan sempit menjadi kendala signifikan. Contohnya, pada 29 Desember 2025, petugas pemadam kebakaran di Palembang, Sumatera Selatan, membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk memadamkan api yang melalap satu unit rumah di kawasan padat penduduk Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, karena sempitnya akses menuju lokasi kejadian.

Keterlambatan respons pemadam kebakaran seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural dan sosial. Secara nasional, Standar Pelayanan Minimal (SPM) menetapkan waktu tanggap pemadam kebakaran adalah 15 menit, terhitung sejak laporan diterima hingga selang siap semprot di lokasi kebakaran. Namun, realitas di lapangan kerap berbeda. Kendala lalu lintas dan kerumunan warga di lokasi kejadian disebut sebagai faktor penghambat signifikan bagi kecepatan akses Damkar. Kasie Operasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bengkulu, Iyem Priadi, menjelaskan bahwa meskipun pos-pos Damkar telah disebar, kemacetan jalan tetap menjadi tantangan besar.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan yang sempit di pemukiman padat dan jauhnya sumber air juga mempersulit upaya pemadaman. Di beberapa wilayah, ketersediaan armada dan sumber daya manusia juga menjadi persoalan. Misalnya, di Kabupaten Berau, meskipun ada penambahan mobil Damkar pada tahun 2024, masih terdapat kekurangan sarana lain seperti fireboot dan fire rescue, serta armada air.

Fenomena pelemparan dan perusakan mobil Damkar menggambarkan jurang antara ekspektasi masyarakat akan respons cepat dan realitas operasional di lapangan. Diperlukan upaya sistematis untuk menjembatani kesenjangan ini, bukan hanya melalui peningkatan kapasitas dan infrastruktur Damkar, tetapi juga edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Pendidikan tentang pentingnya memberikan prioritas jalan bagi kendaraan darurat, serta pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi petugas Damkar, dapat membantu mengurangi insiden serupa di masa depan. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pemadam kebakaran, dan komunitas lokal melalui program-program mitigasi kebakaran berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan kolektif dan mengurangi potensi konflik saat situasi darurat.