:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469076/original/047918600_1768052308-Pembuatan_jembatan_di_lokasi_bencana_banjir.jpeg)
Pemerintah Indonesia, melalui kolaborasi erat antara Tentara Nasional Indonesia dan masyarakat sipil, secara agresif mempercepat pembangunan dan perbaikan jembatan Bailey serta Armco di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Upaya ini difokuskan untuk memulihkan konektivitas vital yang terputus pascabencana hidrometeorologi parah akhir November 2025, yang menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur dan mengisolasi ribuan warga.
Di Sumatera Utara, pembangunan Jembatan Bailey di Desa Aek Nabara, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, telah mencapai sekitar 90 persen penyelesaian, dengan warga dan personel TNI bahu-membahu membersihkan serta merapikan area sekitar agar aman dilalui. Sementara itu, di Kabupaten Langkat, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana (Satgas Gulbencal) Yonzipur I/Bukit Barisan TNI Angkatan Darat telah memulai pembangunan Jembatan Bailey darurat sepanjang 24 meter dengan lebar 3,85 meter di Desa Besilam Bukit Lembasa, Kecamatan Wampu, yang terputus akibat banjir bandang. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak juga meninjau langsung pembangunan jembatan Armco di Kelurahan Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang dinilai strategis untuk distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.
Di Sumatera Barat, fokus percepatan meliputi pembangunan lima unit jembatan Armco yang tersebar di beberapa lokasi seperti Jembatan Sampia Sungai Rangeh di Nagari Bayua, Jembatan Bancah Nagari Maninjau, Jembatan Salimpauang di Kecamatan Malalak, Jembatan Kampuang Jambu di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, serta Jembatan Kampung 2 Mahakarya di Kabupaten Pasaman Barat. Tiga unit jembatan Bailey juga tengah dibangun di Pasaman Barat, termasuk di Jembatan Durian Kilangan Koja, Kecamatan Kinali. Kolaborasi TNI dan Polri juga gencar membangun jembatan darurat di Kabupaten Agam, khususnya di Nagari Malalak Selatan, pascabanjir bandang. Adapun Jembatan Tanjung di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Panjang Timur, telah kembali berfungsi normal setelah dibangun ulang pascabanjir bandang lahar Gunung Marapi pada April 2024.
Bencana hidrometeorologi parah pada akhir November 2025 telah menyebabkan dampak masif di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat hingga 10 Desember 2025 terdapat 1.355 titik kerusakan infrastruktur di ketiga provinsi tersebut. Seluruh Sumatera mengalami kerusakan pada 743 jembatan daerah, dengan hanya 120 yang berfungsi per 7 Januari 2026, menyisakan 623 jembatan yang masih memerlukan perbaikan. Sebanyak 31 jembatan nasional putus dan 2.058 km jalan nasional rusak. Kabupaten Agam saja, Sumatera Barat, menderita kerugian diperkirakan mencapai Rp6,5 triliun dengan 40 jembatan rusak.
Peran Tentara Nasional Indonesia dalam upaya pemulihan ini mencerminkan adaptasi doktrin pertahanan negara ke dalam aksi sipil yang lebih luas, terutama dalam penanggulangan bencana dan pembangunan infrastruktur dasar. Keterlibatan personel TNI, dari tingkat komando hingga Babinsa di lapangan, mempercepat proses pengerjaan di tengah medan yang menantang dan secara signifikan memperkuat koordinasi. Kehadiran negara yang cepat dan nyata ini, seperti yang diwujudkan dengan pemasangan bendera Merah Putih oleh warga di sekitar jembatan yang diperbaiki, membantu memulihkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat ikatan sipil-militer.
Pembangunan jembatan darurat jenis Bailey dan Armco merupakan respons taktis pemerintah untuk segera membuka kembali akses masyarakat. KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini direncanakan dengan matang dan konstruksi kuat untuk menopang kendaraan berat, serta mendukung pemulihan fasilitas publik lainnya seperti sekolah dan layanan kesehatan. Presiden Prabowo Subianto menugaskan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera, menunjukkan komitmen tingkat tinggi dalam upaya pemulihan yang lebih komprehensif. Meskipun demikian, tantangan jangka panjang tetap ada, termasuk pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap bencana, mengingat kerentanan geografis Sumatera terhadap banjir dan longsor yang diperparah oleh degradasi ekologis. Upaya kolektif ini bukan sekadar memperbaiki struktur fisik, melainkan juga menopang pemulihan ekonomi lokal dan kehidupan sosial yang berkelanjutan bagi komunitas yang terdampak.