Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi Laut Pangkep: Kapal Terbalik Renggut Nyawa Camat dan Bidan

2025-12-27 | 17:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T10:23:45Z
Ruang Iklan

Tragedi Laut Pangkep: Kapal Terbalik Renggut Nyawa Camat dan Bidan

Sebuah tragedi maritim melanda perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 27 Desember 2025, ketika Kapal Layar Motor (KLM) Fitri Jaya terbalik. Insiden ini mengakibatkan tewasnya tiga penumpang, termasuk Camat Liukang Tupabbiring Muhammad Fitri Mubarak, Bidan Pulau Sarappo Darma, dan Koordinator Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, Imran. Kapal yang mengangkut total sebelas penumpang serta bantuan kemanusiaan ini dilaporkan oleng dan terbalik akibat cuaca buruk ekstrem.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.00 WITA di perairan antara Pulau Podang-podang dan Pulau Sarappo Lompo, Kecamatan Liukang Tupabbiring, setelah kapal bertolak dari Sungai Pangkajene menuju Pulau Sarappo pada pukul 08.40 WITA. Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa hujan lebat dan angin kencang tiba-tiba menerjang rute pelayaran, menyebabkan nahkoda tidak mampu mengendalikan kapal. Delapan penumpang lainnya, termasuk tenaga kesehatan dan rombongan kecamatan, berhasil diselamatkan oleh warga Pulau Sarappo Lompo yang segera memberikan pertolongan menggunakan perahu nelayan setempat.

Peristiwa ini menyoroti risiko inheren transportasi laut di wilayah kepulauan Sulawesi Selatan, di mana akses antar pulau sangat bergantung pada jalur perairan yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Almarhum Camat Muhammad Fitri Mubarak dikenal sebagai pemimpin yang proaktif dalam melayani masyarakat pulau, seringkali mengunjungi wilayah terpencil untuk memastikan pelayanan pemerintah berjalan lancar, sebuah tugas yang menuntut perjalanan laut rutin. Demikian pula, Bidan Darma dan Koordinator LKC Imran merupakan figur penting dalam penyediaan layanan kesehatan dan bantuan sosial di daerah yang secara geografis menantang.

Musibah ini menggarisbawahi urgensi peningkatan standar keselamatan maritim, terutama untuk kapal-kapal kecil atau perahu semi-tradisional seperti jolloro dan KLM yang menjadi tulang punggung mobilitas di kepulauan. Meskipun detail teknis penyebab terbaliknya kapal masih dalam penyelidikan oleh pihak berwenang, dugaan awal mengarah pada kondisi cuaca. Kepala Pelaksana BPBD Pangkep, Akbar Yunus, mengkonfirmasi insiden tersebut dan menyebutkan bahwa tim gabungan telah dikerahkan untuk penanganan korban dan evakuasi. Hilangnya para pejabat dan relawan ini diperkirakan akan menyisakan dampak signifikan terhadap keberlanjutan program pelayanan publik dan kesehatan di pulau-pulau terpencil di Liukang Tupabbiring. Kejadian ini menjadi pengingat kritis bagi pemerintah dan operator transportasi laut untuk terus meningkatkan kewaspadaan, memperbarui protokol keselamatan, dan memastikan kelaikan kapal serta peralatan navigasi, khususnya dalam menghadapi anomali cuaca yang semakin sering terjadi di perairan Indonesia.