Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terowongan Toleransi & Parkir Bersama: Kisah Eratnya Istiqlal dan Katedral

2025-12-25 | 15:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T08:11:58Z
Ruang Iklan

Terowongan Toleransi & Parkir Bersama: Kisah Eratnya Istiqlal dan Katedral

Terowongan Silaturahmi yang secara fisik menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 12 Desember 2024, mengukuhkan sebuah kemajuan signifikan dalam memupuk toleransi beragama di Indonesia yang telah berlangsung puluhan tahun melalui praktik berbagi lahan parkir dan dialog. Infrastruktur bawah tanah ini, yang digagas oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2020, merealisasikan aspirasi kolektif akan simbol persatuan yang lebih konkret di jantung ibu kota.

Pembangunan Terowongan Silaturahmi, dengan panjang sekitar 33 hingga 34 meter, lebar 4,1 meter, dan kedalaman 6 meter, menelan anggaran sebesar Rp 37,3 miliar hingga Rp 39 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dimulai pada Desember 2020 dan selesai pada September 2021. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, K.H. Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa terowongan ini tidak hanya dirancang untuk memudahkan akses jamaah kedua rumah ibadah serta menyediakan ruang parkir tanpa mengganggu lalu lintas, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya toleransi antarumat beragama. Filosofi kedalaman terowongan melambangkan kedalaman hati umat beragama. Di dalamnya, terdapat diorama karya seniman Sunaryo berjudul "Wot Hati" atau "Jembatan Hati", yang secara visual menggambarkan hubungan toleransi tersebut.

Jauh sebelum terowongan ini diwujudkan, kedua institusi keagamaan telah lama menunjukkan model kerukunan yang kuat melalui praktik berbagi lahan parkir. Setiap perayaan hari besar keagamaan, seperti Natal dan Paskah, Masjid Istiqlal secara rutin menyediakan area parkir di lantai dasar yang mampu menampung 500 hingga 1.000 kendaraan bagi jemaat Gereja Katedral, dan sebaliknya Gereja Katedral juga membuka halamannya saat Idul Fitri. Kepala Bidang Riayah dan Humas Masjid Istiqlal, Ismail Cawidu, menegaskan bahwa kerja sama ini telah berlangsung bertahun-tahun sebagai wujud nyata kerukunan, meliputi pula pengamanan bersama dan kegiatan olahraga periodik antara remaja masjid dan katedral. Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Istiqlal yang mempermudah mobilitas umat.

Latar belakang historis keberadaan Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral sendiri berakar pada visi pendiri bangsa. Ir. Soekarno, Presiden pertama Indonesia, secara eksplisit memilih lokasi Istiqlal di Taman Wilhelmina, di seberang Katedral, meskipun Moh. Hatta sempat mengusulkan lokasi lain. Soekarno menginginkan Masjid Istiqlal berdiri sebagai simbol kemerdekaan dan kerukunan antarumat beragama. Arsitek Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, seorang Kristen Protestan, semakin memperkuat narasi toleransi sejak awal pembangunannya pada tahun 1961, yang kemudian diresmikan pada 1978. Gereja Katedral sendiri telah berdiri lebih dulu, diresmikan pada 1901. Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, menyebut Terowongan Silaturahmi sebagai kelanjutan dari gagasan awal Sukarno dan sebuah "monumen abadi" bagi harmoni bangsa.

Implikasi kehadiran terowongan ini melampaui batas fungsional semata. Presiden Prabowo Subianto dalam peresmiannya menyatakan bahwa terowongan ini merupakan simbol kerukunan umat beragama yang menjadikan Indonesia unik sebagai bangsa yang majemuk namun rukun. Pengakuan internasional pun turut menyertai. Paus Fransiskus, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, secara langsung mengunjungi Terowongan Silaturahmi pada September 2024 dan menyatakan kekagumannya terhadap ide tersebut, berharap terowongan itu menjadi tempat dialog dan perjumpaan dalam semangat kerukunan. Kardinal Suharyo bahkan mengungkapkan bahwa Vatikan berencana menyusun buku tentang hubungan antaragama dan meminta Katedral untuk membagikan kisah tentang Terowongan Silaturahmi, menunjukkan relevansi global proyek ini sebagai model toleransi.

Meskipun menghadapi tantangan awal seperti keberadaan pipa air dan listrik peninggalan Belanda saat konstruksi, terowongan ini kini siap difungsikan secara penuh, termasuk saat perayaan Trihari Suci Paskah 2025. Kehadiran Terowongan Silaturahmi dan praktik berbagi parkir yang berkelanjutan tidak hanya memfasilitasi kebutuhan praktis jamaah, tetapi juga memperdalam narasi toleransi, mengubah kedekatan geografis menjadi konektivitas hati dan budaya yang kokoh, serta memberikan contoh nyata bagi dunia tentang persatuan dalam keberagaman.