:strip_icc()/kly-media-production/medias/5428144/original/012723400_1764480695-3.jpg)
Ribuan warga terdampak banjir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kini menghadapi kondisi memilukan di posko pengungsian, bertahan hidup tanpa ketersediaan obat-obatan yang memadai dan dilingkupi rasa putus asa. Delapan hari sudah sebagian besar wilayah, terutama Kecamatan Tanjung Pura, terendam banjir dengan ketinggian air yang signifikan, membuat ribuan kepala keluarga terpaksa mengungsi.
Ketiadaan pasokan medis menjadi keluhan utama para pengungsi. Warga di posko pengungsian Jalan Bambu Runcing, Kecamatan Tanjung Pura, mulai menunjukkan gejala penyakit kulit seperti gatal-gatal dan sakit perut. Agus, salah seorang warga terdampak, mengungkapkan keprihatinannya bahwa sejak hari pertama banjir hingga hari kedelapan, belum ada bantuan obat-obatan yang diterima dari pemerintah daerah. Situasi ini diperparah dengan kondisi sanitasi yang serba terbatas di lokasi pengungsian, yang secara mandiri dibangun oleh masyarakat tanpa melibatkan pemerintah daerah. Selain itu, tim medis juga membutuhkan obat-obatan untuk diare, dermatitis, infeksi pernapasan, obat tetes mata untuk bayi, sirup kombinasi untuk infeksi pernapasan, air bersih untuk melarutkan antibiotik, serta sendok obat. Anak-anak menjadi kelompok rentan yang paling merasakan dampaknya, dengan kasus ISPA, diare, tinea, dan dermatitis bakteri yang dilaporkan di posko pengungsian.
Selain minimnya obat-obatan, distribusi bantuan logistik umum, termasuk makanan, juga dikeluhkan tidak merata. Beberapa warga mengaku harus berebut untuk mendapatkan bantuan, sementara ada pula yang belum menerima bantuan sama sekali selama berhari-hari. Kondisi ini mendorong warga untuk mengambil risiko mencari pasokan makanan sendiri, bahkan dengan melintasi arus banjir yang kuat. Ribuan warga lainnya di pelosok Langkat ditemukan mengungsi di atas rel kereta api dengan fasilitas yang sangat minim, tanpa alas tidur layak, dan tenda yang bocor saat hujan. Minimnya penerangan menambah kerentanan bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Sebanyak 122.527 kepala keluarga di 16 kecamatan terdampak banjir, dengan 11 korban jiwa dilaporkan. Akses jalan menuju Langkat terputus, listrik padam, dan jaringan telekomunikasi hilang, sangat menyulitkan koordinasi tim penyelamat dan penyaluran bantuan. Bupati Langkat Syah Afandin telah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 12 Desember 2025. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus telah turun langsung ke Langkat pada 4 Desember 2025 untuk mendata fasilitas kesehatan yang rusak akibat banjir, seperti rumah sakit dan puskesmas. Meskipun demikian, kerusakan ini berdampak pada pelayanan kesehatan yang maksimal bagi masyarakat. Posko siaga bencana 24 jam melalui PSC 119 telah dioperasikan Dinas Kesehatan untuk memastikan pelayanan medis tetap tersedia. Namun, di tengah perjuangan warga, Bupati Langkat justru menerima penghargaan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) di Medan, pada 28 November 2025, yang menuai kritik dari masyarakat.