:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454866/original/047315100_1766577626-195605.jpg)
Tim Penjinak Bahan Peledak (Jibom) Detasemen Gegana Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Jawa Barat pada Rabu, 24 Desember 2025, menyisir setidaknya 19 gereja di Kota Sukabumi dan sejumlah gereja di empat kecamatan di Kabupaten Sukabumi, sebagai bagian dari upaya preventif untuk menjamin keamanan ibadah Malam Natal. Tindakan sterilisasi ini, yang merupakan agenda rutin pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), bertujuan utama mengantisipasi potensi ancaman gangguan keamanan dan memastikan kenyamanan umat Kristiani saat menjalankan misa kudus.
Penyisiran di Kota Sukabumi melibatkan 15 personel Jibom Gegana Polda Jawa Barat yang dibagi dalam dua tim. Kabagops Polres Sukabumi Kota, Kompol Deden Sulaeman, menegaskan bahwa seluruh lokasi yang disterilisasi dinyatakan aman dan tidak ditemukan bahan kimia maupun bahan peledak. "Sterilisasi ini bagian dari langkah preventif, agar umat Kristiani dan Katolik dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan kondusif," ujar Kompol Deden Sulaeman pada Rabu (24/12/2025). Di wilayah Kabupaten Sukabumi, operasi serupa difokuskan pada gereja-gereja di Kecamatan Palabuhanratu, Cikembar, Cibadak, dan Cicurug, dengan didampingi oleh personel Polres Sukabumi. Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Samian, melalui Kasi Humas Iptu Aah Saepul Rohman, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk pelayanan pengamanan polisi dengan tujuan agar para jemaat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan lebih khusyuk. Tim Jibom menggunakan peralatan khusus seperti detektor bahan peledak, cermin taktis (mirror tactical), Riideye X, dan detektor logam untuk memeriksa setiap sudut gereja, mulai dari altar, deretan bangku jemaat, hingga area luar bangunan.
Kewaspadaan tinggi aparat keamanan Jawa Barat ini berakar pada sejarah kelam insiden terorisme yang pernah menargetkan perayaan keagamaan di Indonesia, termasuk serangkaian pengeboman gereja pada Malam Natal tahun 2000 oleh kelompok teroris. Ancaman tersebut secara konsisten menjadi perhatian, mendorong aparat untuk meningkatkan pemantauan dan pengamanan, terutama menjelang hari besar keagamaan. Kepala Satuan Tugas Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Wilayah Jawa Barat, Kombes Pol Bogiek Sugiyarto, menyatakan bahwa pihaknya terus meningkatkan pemantauan terhadap potensi ancaman terorisme menjelang Nataru 2025/2026, menjalin koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya pencegahan. Upaya pengamanan ini juga diperketat menyusul temuan benda mencurigakan yang sempat diduga bom di depan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Bandung pada 19 Desember 2025, meskipun kemudian dipastikan bukan bahan peledak.
Pengamanan berlapis dan sterilisasi gereja adalah bagian dari Operasi Lilin Lodaya 2025 yang melibatkan total lebih dari 900 personel gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan di Kabupaten Sukabumi. Personel ditempatkan di pos-pos strategis dan gereja-gereja, dengan masa operasi yang diperpanjang hingga 4 Januari 2026. Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Samian, menekankan pentingnya kehadiran dan kesiapsiagaan personel di lapangan, serta pengamanan ibadah Natal yang humanis dengan melibatkan tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan keagamaan untuk menciptakan suasana kondusif. Langkah-langkah ini tidak hanya berfungsi sebagai deteksi dini terhadap ancaman fisik, tetapi juga membangun kepercayaan publik terhadap kapasitas negara dalam menjaga keamanan dan toleransi beragama. Implikasinya, sterilisasi gereja dan kehadiran aparat keamanan yang humanis bertujuan memperkuat kohesi sosial dan menegaskan bahwa perayaan keagamaan dapat berjalan damai di tengah potensi ancaman, sekaligus menegaskan komitmen penegakan hukum dalam menjaga keamanan nasional.