
Kepolisian Resor Serang berhasil mengelola 437,9 hektare lahan tidur di wilayah hukumnya menjadi areal pertanian jagung produktif, sebuah langkah signifikan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional dan mendongkrak perekonomian lokal. Inisiatif yang dipimpin langsung oleh Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko ini melibatkan kolaborasi erat dengan kelompok tani, TNI, pemerintah daerah, dan pihak swasta, menandai perluasan upaya yang telah berlangsung sejak November 2024.
Program ini berawal dari penanaman jagung di lahan 10 hektare di Desa Mekarbaru, Kecamatan Kopo, pada akhir 2024, yang kemudian terus berkembang menjadi 22 hektare di lokasi yang sama pada Juni 2025. Data terbaru hingga Desember 2025 menunjukkan total area yang telah dioptimalkan mencapai 437,9 hektare, dengan sebagian besar merupakan lahan yang sebelumnya tidak produktif. Pemanfaatan lahan tidur ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat dan merupakan bagian dari program Ketahanan Pangan Polri yang lebih luas, yang menargetkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Latar belakang inisiatif ini sangat relevan mengingat kondisi lahan pertanian di Provinsi Banten yang terus menyusut. Data menunjukkan penurunan seluas 6.490 hektare atau 3,18 persen dari 205.335 hektare pada 2019 menjadi 197.845 hektare pada 2024. Pemanfaatan lahan tidur yang didefinisikan sebagai lahan yang tidak diusahakan lebih dari satu tahun namun kurang dari dua tahun, atau lahan sawah yang tidak diusahakan lebih dari dua tahun, menjadi krusial untuk menjaga ketersediaan pangan. Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko menegaskan bahwa swasembada pangan tidak akan tercapai jika lahan-lahan tidur dibiarkan tidak produktif.
Dampak ekonomi dan sosial dari program ini telah mulai terasa. Hingga Kuartal II 2025, lahan seluas 130 hektare telah menghasilkan 845 ton jagung pipil yang dijual ke perusahaan pakan di Kabupaten Serang, memberikan pendapatan langsung bagi petani. Panen raya di lahan 1,5 hektare di Kampung Waru Tegal, Jawilan, pada November 2025, diperkirakan menghasilkan 10 ton jagung, menunjukkan potensi produktivitas yang signifikan. Kapolres Condro Sasongko menyatakan bahwa keberhasilan panen ini tidak hanya menjadi hasil jerih payah para petani, tetapi juga bukti nyata sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan.
Inovasi menjadi salah satu pilar keberhasilan program. Polres Serang tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga mengembangkan produksi pupuk kompos organik berlabel "Pupuk Pak Bhabin" dari kotoran hewan, yang membantu mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia dan menekan biaya operasional. Selain itu, kerja sama dengan perusahaan agrikultur dalam penyaluran Corporate Social Responsibility (CSR) berupa insektisida, herbisida, dan fungisida, serta kontrak pembelian hasil panen untuk menjaga stabilitas harga, turut memperkuat ekosistem pertanian.
Kapolda Banten Brigjen Pol. Hengki menyoroti bahwa ketahanan pangan merupakan pilar penting kemandirian bangsa, menegaskan bahwa bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan berdiri lebih kuat dan berdaulat. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga telah memberikan apresiasi tinggi kepada Kapolres Serang atas peran aktifnya dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional.
Ke depan, program ini diharapkan dapat berkelanjutan dan menjadi model bagi pengembangan ketahanan pangan di wilayah lain di Kabupaten Serang dan sekitarnya. Dengan program "1 Desa 1 Hektare" yang dicanangkan, upaya pemanfaatan lahan tidur terus diintensifkan dengan target melibatkan lebih banyak desa. Peninjauan lahan jagung di Kopo pada Desember 2025 menunjukkan harapan panen 150 ton pipil jagung pada Januari 2026, yang akan terus mengokohkan upaya swasembada pangan lokal. Sinergi antara kepolisian sebagai fasilitator dan masyarakat petani menjadi kunci dalam menghadapi tantangan krisis pangan dan mewujudkan kemandirian pangan berkelanjutan.