:strip_icc()/kly-media-production/medias/789772/original/008055600_1420427810-cuaca_3.jpg)
Pukul 06.44 WIB pada Rabu, 24 Desember 2025, sebagian besar wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) diperkirakan akan menghadapi pagi yang berawan tebal, berlanjut dengan hujan pada siang hari, dan kembali diselimuti awan tebal pada malam hari, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memprediksi seluruh wilayah Jakarta diguyur hujan ringan pada siang hari ini, dengan kondisi serupa di Tangerang. Bogor diprakirakan hujan sedang hingga disertai petir, sementara Depok dan Bekasi diprediksi mengalami hujan sedang. Suhu udara di Jabodetabek hari ini berkisar antara 22-31 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 71-98 persen.
Prakiraan ini menegaskan posisi Jakarta dan sekitarnya yang kini berada di puncak musim hujan, yang menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, berpotensi memicu cuaca ekstrem. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca signifikan di wilayah Jakarta dan Banten hingga 26 Desember 2025, yang dipicu oleh kemunculan dua bibit siklon tropis, 93S dan 95S, serta perambatan seruakan dingin dari Asia. Bibit Siklon Tropis 93S, yang terpantau menguat di Samudra Hindia selatan Jawa Barat, berpotensi meningkatkan kecepatan angin hingga lebih dari 25 knot di perairan selatan Jawa dan memicu hujan sedang hingga lebat.
Pola cuaca ekstrem di Jakarta bukan fenomena baru. Data historis menunjukkan bahwa frekuensi kejadian banjir semakin sering terjadi sejak tahun 1960-an, dengan kenaikan suhu permukaan kota yang signifikan. Praktisi Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG, Siswanto, mengungkapkan bahwa suhu permukaan Jakarta meningkat 1,6 derajat Celsius dalam 130 tahun terakhir, lebih cepat dibandingkan laju kenaikan suhu global dan regional. Peningkatan suhu ini berdampak pada perubahan sifat curah hujan menjadi lebih deras namun durasinya lebih pendek, serta pergeseran waktu hujan dari siang ke malam hari. Urbanisasi yang masif dan efek pulau panas perkotaan juga turut memperburuk kondisi ini, membuat kota-kota menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan daerah pedesaan sekitarnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengambil berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi puncak musim hujan dan potensi bencana hidrometeorologi. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melalui Staf Khusus Bidang Komunikasi Sosial Chico Hakim, menyatakan bahwa Pemprov menggenjot program normalisasi dan pengerukan sungai serta saluran air, termasuk di Sungai Ciliwung dan Kali Krukut, dan telah mengaktifkan 600 unit pompa statis serta 590 unit pompa mobile di 202 lokasi rawan banjir. Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga melaporkan pembangunan 5 polder/pompa dan revitalisasi 2 lokasi pompa stasioner pada tahun 2024, serta pembangunan 8 waduk/embung. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini (early warning system) dan koordinasi lintas sektor dalam rapat mitigasi cuaca ekstrem.
Namun demikian, tantangan tetap besar. Penurunan permukaan tanah (land subsidence) akibat penggunaan air tanah berlebihan menjadi faktor krusial yang memperburuk kondisi Jakarta saat musim hujan, terutama di wilayah pesisir yang sudah berada di bawah permukaan laut. Plt. Kepala Dinas SDA Daerah Khusus Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengimbau warga untuk beralih menggunakan jaringan air bersih PAM guna mengurangi laju penurunan muka air tanah. Analisis data historis dan model proyeksi iklim BMKG bahkan memperkirakan risiko banjir di Jakarta pada masa mendatang bisa meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan 100 tahun lalu, menunjukkan urgensi adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata.