:strip_icc()/kly-media-production/medias/5110634/original/065338100_1737977357-ciwidey_1.jpg)
Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Bandung telah mengumumkan serangkaian rencana rekayasa lalu lintas komprehensif untuk mengantisipasi lonjakan volume kendaraan selama puncak libur Natal dan Tahun Baru 2025, dengan fokus pada titik-titik rawan kemacetan seperti kawasan Dago, Lembang, dan Gerbang Tol Pasteur. Rekayasa ini melibatkan penerapan sistem satu arah situasional, pengalihan arus, dan penempatan personel di puluhan pos pengamanan dan pelayanan mulai pekan ketiga Desember 2025.
Langkah-langkah rekayasa lalu lintas ini secara rutin menjadi respons tahunan terhadap pola pergerakan wisatawan domestik yang menjadikan Bandung Raya sebagai destinasi utama selama periode liburan. Pada tahun-tahun sebelumnya, seperti libur Natal dan Tahun Baru 2023/2024, volume kendaraan yang masuk ke Bandung via Gerbang Tol Pasteur dan Cileunyi tercatat meningkat signifikan, mencapai lebih dari 50% dibandingkan hari biasa. Data dari Dinas Perhubungan Jawa Barat menunjukkan bahwa puncak arus mudik menuju Bandung kerap terjadi H-3 hingga H-1 Natal, dengan penumpukan di ruas jalan arteri yang mengarah ke objek wisata favorit dan pusat perbelanjaan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, dalam keterangannya pekan lalu, menekankan pentingnya intervensi ini untuk meminimalkan dampak kemacetan yang dapat melumpuhkan aktivitas kota dan mengganggu mobilitas warga serta wisatawan. Titik krusial yang diprioritaskan meliputi Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Jalan Setiabudhi, Jalan Raya Lembang, dan akses menuju kawasan Ciwidey serta Pangalengan. Di area Dago dan Lembang, sistem satu arah akan diberlakukan secara fleksibel berdasarkan kepadatan volume kendaraan aktual. Demikian pula, di jalur Gerbang Tol Pasteur, langkah pengalihan arus kendaraan menuju jalan alternatif telah disiapkan untuk mengurai antrean panjang.
Rekayasa ini bukan hanya tentang penanganan jangka pendek. Sejarah menunjukkan bahwa tantangan lalu lintas di Bandung selama periode liburan adalah masalah struktural yang membutuhkan solusi berkelanjutan. Keterbatasan infrastruktur jalan di pusat kota dan koridor pariwisata, dikombinasikan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang tidak seimbang, memperburuk kondisi ini setiap tahun. Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Ir. Hari Nugraha, menyatakan bahwa meskipun rekayasa lalu lintas situasional efektif mengurangi kemacetan pada titik tertentu, ini bukan solusi permanen. Dr. Hari menambahkan, "Solusi jangka panjang memerlukan peningkatan kapasitas jalan, pengembangan transportasi publik yang terintegrasi, serta penegakan hukum yang konsisten terhadap pelanggaran lalu lintas."
Implikasi dari kemacetan yang tidak tertangani secara efektif meluas ke sektor ekonomi dan sosial. Bisnis lokal, khususnya di sektor pariwisata dan perhotelan, dapat mengalami kerugian akibat pengalaman buruk wisatawan. Di sisi lain, warga Bandung menghadapi frustrasi dan penurunan kualitas hidup akibat waktu tempuh yang lebih panjang dan polusi udara. Upaya Polrestabes Bandung melalui rekayasa ini, didukung oleh Dishub dan stakeholder lainnya, diharapkan dapat menjadi jembatan untuk memastikan kelancaran pergerakan, namun diskusi lebih lanjut mengenai pengembangan infrastruktur dan kebijakan transportasi jangka panjang perlu terus didorong untuk mencapai keberlanjutan.