Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Puting Beliung Terjang Permukiman Lampung, Atap Rumah Warga Porak-poranda

2025-12-25 | 21:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T14:19:14Z
Ruang Iklan

Puting Beliung Terjang Permukiman Lampung, Atap Rumah Warga Porak-poranda

Angin puting beliung menerjang permukiman warga di Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu (24/12/2025) sore, mengakibatkan kerusakan signifikan pada atap-atap rumah dan kerugian materiil. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB ini menerbangkan puluhan lembar seng dan memecahkan genteng, menyoroti kerentanan infrastruktur di tengah fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering melanda wilayah Sumatera.

Kapolsek Semaka, AKP Sutarto, mengonfirmasi bahwa sedikitnya tiga rumah warga mengalami kerusakan pada bagian atap. Marhakim (55), seorang petani, melaporkan sekitar 100 lembar seng atap rumahnya terlepas dan terbang terbawa angin. Selain itu, Maulana (45) kehilangan dua lembar seng, sementara Aslani (45) menghadapi kerusakan berupa pecahnya 10 lembar genteng rumahnya. Kerugian materiil awal diperkirakan mencapai sekitar Rp6 juta, meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

Kejadian di Tanggamus ini menambah daftar panjang insiden angin puting beliung yang melanda Lampung sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, pada 16 Desember 2025, sebelas rumah di Kelurahan Gunung Sari dan Kelurahan Pelita, Kecamatan Enggal, Bandar Lampung, juga mengalami kerusakan atap akibat terpaan angin kencang. Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandar Lampung, Idham Basyar Saputra, menyatakan atap rumah warga porak poranda dalam peristiwa tersebut. Bulan November 2025, total 142 rumah dan fasilitas umum di lima kabupaten—Lampung Timur, Pesawaran, Tulang Bawang Barat, Way Kanan, dan Lampung Tengah—rusak, dengan 26 di antaranya rusak berat. Pada 10 November 2025, angin puting beliung juga merusak 24 rumah di Kecamatan Batanghari dan Batanghari Nuban, Lampung Timur. Bahkan pada awal Februari 2025, puluhan rumah di Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung, dilaporkan mengalami kerusakan parah, termasuk ambruknya gelanggang olahraga.

Frekuensi dan intensitas angin puting beliung ini sejalan dengan peringatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung. Analis Bencana BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, pada 11 Desember 2025, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2026, dengan curah hujan tinggi, angin kencang, banjir rob, dan banjir bandang. Wahyu juga mengedukasi masyarakat untuk mengenali tanda alam seperti awan "kembang kol" yang mengindikasikan potensi angin kencang dan puting beliung.

Para ahli meteorologi mengaitkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem ini dengan perubahan iklim global dan anomali atmosfer. Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, serta analis meteorologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa pemanasan atmosfer meningkatkan intensitas hujan dan anomali seperti gelombang Rossby Khatulistiwa, Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 6, Indian Ocean Dipole (IOD), serta La Nina, secara kolektif menciptakan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil di wilayah seperti Sumatera. Kondisi ini mendukung pembentukan awan kumulonimbus berskala besar yang menjadi pemicu utama angin puting beliung.

Implikasi jangka panjang dari fenomena ini menuntut upaya mitigasi yang lebih terstruktur dan adaptasi masyarakat. Kerentanan permukiman, terutama yang dibangun dengan material ringan, menjadi sorotan. Pemerintah daerah, melalui BPBD dan dinas terkait, perlu memperkuat sistem peringatan dini, edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana, serta mendorong pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap cuaca ekstrem. Kerjasama lintas sektor, termasuk peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan saluran air, menjadi krusial untuk mengurangi dampak bencana yang diprediksi akan terus meningkat di masa mendatang.