:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456758/original/093290600_1766944046-199225.jpg)
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu sore, 28 Desember 2025, memicu luapan Sungai Cimerang di Kecamatan Purabaya, menyebabkan banjir bandang yang merendam permukiman serta menghanyutkan belasan hewan ternak warga, termasuk kambing. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIB ini mengakibatkan sedikitnya dua kampung, Cipeusing dan Cimerang Hilir di Desa Cimerang, terendam air setinggi 1,5 hingga 2,5 meter, memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Neng Amy, seorang warga Kampung Cipeusing, menuturkan bahwa hujan lebat dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, dengan debit air sungai yang meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga pada pukul 15.30 WIB. "Banyak rumah warga terendam, bahkan ada yang terbawa arus sungai. Sawah juga sudah terendam," kata Amy, seraya berharap air segera surut dan tidak kembali meluap. Kerugian materil akibat banjir ini masih dalam pendataan, namun hilangnya hewan ternak menjadi pukulan telak bagi perekonomian warga yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian dan peternakan.
Insiden ini bukan yang pertama kali melanda Kecamatan Purabaya. Wilayah tersebut telah berulang kali menjadi langganan bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor, yang menunjukkan kerentanan geografis dan struktural. Hanya dua bulan sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, Sungai Cibening juga meluap akibat hujan deras, merendam belasan titik permukiman dan sempat memutus akses jalan provinsi penghubung Purabaya–Sagaranten. Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Purabaya, Yanto Prayitno, kala itu mencatat sedikitnya 13 titik permukiman terdampak, termasuk Kampung Muara dan Lembur Tengah, dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Sekitar 60 kepala keluarga atau 120 jiwa terpaksa mengungsi, dan 6 hektar lahan pertanian di Desa Purabaya, Neglasari, dan Cicukang rusak terendam.
Pada November 2024, luapan Sungai Cibening juga menyebabkan banjir di Desa Purabaya dan Pagelaran, merendam 52 rumah warga dan 5 hektar area persawahan, serta mengevakuasi 52 jiwa. Data historis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi juga menunjukkan bahwa pada Oktober 2022, banjir dan longsor di Purabaya merusak 63 unit rumah dan berdampak pada ratusan keluarga di Desa Purabaya dan Neglasari. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Wawan Godawan Saputra, pada saat itu telah mengkonfirmasi kerusakan dan dampak luas pada masyarakat. Sementara itu, Staf Humas PMI Kabupaten Sukabumi, Ariel Solehudin, menyatakan bahwa bantuan darurat terus disalurkan untuk para penyintas.
Analisis terhadap pola bencana ini mengindikasikan bahwa intensitas curah hujan yang tinggi merupakan pemicu langsung, namun faktor lain seperti degradasi lingkungan, sedimentasi sungai, dan kemungkinan berkurangnya daerah resapan air di hulu, turut memperparah dampak luapan sungai. Beberapa laporan sebelumnya menyoroti "tersendatnya aliran air sungai yang dijadikan perumahan" sebagai salah satu penyebab banjir di kawasan Purabaya. Fenomena ini diperparah oleh perubahan iklim yang memicu pola hujan ekstrem, menjadikan daerah-daerah seperti Purabaya semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Rendahnya kemampuan infiltrasi tanah juga menyebabkan air tidak mampu terserap, sehingga memicu peningkatan volume air permukaan secara cepat.
Implikasi jangka panjang dari banjir berulang ini sangat signifikan, terutama bagi keberlanjutan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat. Hilangnya hewan ternak secara periodik mengancam mata pencarian utama petani dan peternak kecil, mendorong mereka ke dalam siklus kerugian ekonomi. Kerusakan lahan pertanian berdampak langsung pada ketahanan pangan lokal. Pemerintah daerah dan pihak terkait dihadapkan pada tantangan besar untuk mengembangkan strategi mitigasi yang komprehensif. Upaya ini harus mencakup normalisasi sungai, perbaikan drainase, pengelolaan tata ruang yang lebih ketat untuk mencegah permukiman di bantaran sungai, serta program reboisasi di wilayah hulu. Pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana juga krusial untuk mengurangi risiko dan dampak di masa depan. Tanpa intervensi terkoordinasi dan berkelanjutan, masyarakat Purabaya akan terus hidup di bawah ancaman luapan sungai yang setiap saat dapat merenggut harta benda dan mengganggu kehidupan.