Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Puluhan Rumah Rusak Ringan Imbas Terjangan Angin Kencang di Saban Gunungkidul

2025-12-31 | 20:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T13:58:51Z
Ruang Iklan

Puluhan Rumah Rusak Ringan Imbas Terjangan Angin Kencang di Saban Gunungkidul

Angin kencang disertai hujan deras menerjang Padukuhan Saban, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, pada Rabu (31/12/2025) sore sekitar pukul 15.00 WIB, mengakibatkan 23 rumah warga dan satu bangunan ibadah mengalami kerusakan ringan pada bagian atap. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul segera mengerahkan tim untuk melakukan asesmen kerusakan di lokasi terdampak.

Kejadian yang berlangsung tiba-tiba ini menyebabkan genteng bergeser dan terlepas dari puluhan rumah, menimbulkan kepanikan singkat di kalangan warga yang berupaya menyelamatkan diri dan harta benda. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka akibat insiden tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengonfirmasi bahwa timnya langsung mendatangi lokasi pada pukul 15.30 WIB. "Hujan deras yang disertai angin kencang menyebabkan kerusakan ringan pada atap rumah warga di Padukuhan Saban. Sebagian besar kerusakan berupa genteng bergeser dan terlepas," ujar Purwono. Ia menambahkan bahwa fokus BPBD saat ini adalah pendataan dan koordinasi dengan pemerintah kalurahan setempat untuk penanganan lanjutan.

Insiden di Padukuhan Saban ini terjadi di tengah peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta International Airport (YIA) untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). BMKG telah memprediksi potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di berbagai wilayah DIY, khususnya di bagian selatan termasuk Gunungkidul. Kondisi ini lazim terjadi selama musim hujan dan masa transisi, di mana konvergensi massa udara dapat memicu pertumbuhan awan cumulonimbus secara cepat.

Sebagai respons terhadap potensi ancaman bencana hidrometeorologi, BPBD Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat mulai November 2025 hingga 31 Januari 2026. Status ini diberlakukan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Edy Winarta, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, menjelaskan bahwa penetapan status ini adalah bagian dari strategi mitigasi, mengingat wilayah tersebut sudah memasuki musim hujan dan telah menunjukkan dampak cuaca ekstrem di awal musim. Pemetaan daerah rawan bencana juga telah dilakukan, dengan potensi angin kencang menyebar di seluruh wilayah Gunungkidul.

Peristiwa serupa bukan hal baru bagi Gunungkidul. Data historis menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki potensi risiko cuaca ekstrem kategori sedang hingga tinggi, dengan insiden angin kencang yang sering kali menyebabkan kerusakan atap rumah dan pohon tumbang. Misalnya, pada November 2025, angin kencang di Kapanewon Playen menyebabkan kerusakan belasan rumah dan fasilitas umum. Demikian pula, pada Oktober 2025, sekitar 50 unit rumah dan fasilitas umum di beberapa kapanewon juga mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem.

Meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi seperti angin kencang ini juga dihubungkan dengan dampak perubahan iklim. Kenaikan suhu signifikan di DIY berpotensi menimbulkan berbagai efek negatif, termasuk peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam. Untuk jangka panjang, upaya mitigasi dan adaptasi yang lebih komprehensif sangat diperlukan, termasuk peningkatan ruang hijau, pengelolaan sampah, penggunaan transportasi berkelanjutan, serta perlindungan dan rehabilitasi hutan. Masyarakat juga terus diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, memangkas ranting pohon yang rindang, dan memantau informasi cuaca dari BMKG guna meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. Kesiapsiagaan kolektif menjadi kunci dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks di masa mendatang.