:strip_icc()/kly-media-production/medias/4884696/original/091670200_1720262158-20240706-La_Nina-ANG_6.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu, 27 Desember 2025, mengeluarkan peringatan dini akan potensi hujan petir di berbagai wilayah Jabodetabek, khususnya pada siang hingga sore hari. Sebagian besar area Jakarta, termasuk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan, diprediksi menghadapi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, disertai kilat dan petir, sementara Kepulauan Seribu juga diperkirakan mengalami kondisi serupa sejak pagi hari. Bogor dan Bekasi juga termasuk dalam wilayah yang berpotensi diguyur hujan disertai petir, dengan Tangerang diprakirakan berawan tebal namun tetap dengan kemungkinan hujan ringan.
BMKG menetapkan status "Waspada" untuk DKI Jakarta atas potensi hujan sedang hingga lebat pada hari ini. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, sebelumnya telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, yang dipicu oleh aktifnya Monsun Asia yang meningkatkan suplai massa udara basah. Fenomena La Nina yang melemah juga masih berkontribusi pada potensi cuaca ekstrem hingga kuartal pertama 2026.
Ibu Kota dan daerah penyangganya secara historis rentan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama selama puncak musim hujan yang umumnya terjadi antara Desember hingga Januari. Pada Desember 2025, BMKG sebelumnya telah memperingatkan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Jabodetabek yang berdampak pada pohon tumbang dan genangan air. Kondisi ini mengulang pola yang sering terjadi, di mana Jakarta pernah mengalami banjir besar pada 2020 dengan curah hujan ekstrem mencapai 377 milimeter per hari di Halim, Jakarta Timur, menjadikannya curah hujan tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Banjir rob juga menjadi ancaman periodik di wilayah pesisir Jakarta Utara, dengan peringatan serupa dikeluarkan awal Desember 2025.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa meskipun iklim secara umum diprediksi "normal" pada 2026, potensi cuaca ekstrem tetap ada jika bertemu dengan tingkat kerentanan wilayah yang tinggi. "Normal" dalam prakiraan iklim BMKG merujuk pada kondisi cuaca yang masih berada dalam rentang klimatologi historis 1991-2020, bukan berarti bebas dari hujan lebat atau banjir. BMKG saat ini sedang memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak (impact-based forecasting) untuk memberikan informasi tidak hanya tentang intensitas hujan tetapi juga potensi risiko spesifik seperti banjir atau tanah longsor.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari kanal resmi BMKG dan mengambil langkah antisipatif. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak hidrometeorologi, termasuk genangan air, banjir lokal, pohon tumbang, serta potensi gangguan aktivitas sehari-hari akibat hujan intensitas tinggi yang disertai petir.