:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453747/original/087750800_1766491777-20251223_172836.jpg)
Penyidik Polres Metro Depok akan memanggil kekasih dari individu yang diduga mengirimkan email ancaman bom ke sepuluh sekolah di Depok, Jawa Barat, menyusul serangkaian ancaman yang meresahkan dunia pendidikan setempat pada Selasa, 23 Desember 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya kepolisian untuk mendalami motif dan menguak identitas sebenarnya di balik ancaman serius yang melibatkan teror bom, penculikan, pembunuhan, hingga penyebaran narkoba.
Ancaman tersebut, yang dikirimkan melalui surat elektronik ke sejumlah sekolah termasuk SMA Arrahman, SMA Mawaddah, SMA Muhammadiyah 4 Depok, dan SMAN 6 Depok, memicu respons cepat dari aparat keamanan. Tim Gegana Korps Brimob Polri segera melakukan penyisiran menyeluruh di lokasi-lokasi yang disebutkan, namun tidak menemukan adanya bahan peledak atau benda mencurigakan, memastikan bahwa ancaman tersebut merupakan kabar palsu atau hoaks.
Kepala Seksi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, menjelaskan bahwa terduga pengirim email tersebut, yang mengidentifikasi dirinya sebagai Kamila Hamdi (diinisialkan K atau KLH), telah dimintai keterangan. Namun, Kamila Hamdi menyangkal telah mengirimkan ancaman tersebut, mengklaim bahwa akun email dan media sosial miliknya telah diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab. Polisi masih terus mendalami kebenaran pengakuan ini, menelusuri kemungkinan peretasan atau upaya menghindari tanggung jawab hukum.
Dalam email ancaman, pelaku menuliskan motifnya adalah kekecewaan dan kebencian terhadap dunia pendidikan di Depok, serta merasa tidak adil karena laporan pemerkosaan yang dialaminya tidak ditindaklanjuti polisi. Namun, AKP Made Budi secara tegas membantah narasi tersebut, menyatakan bahwa klaim sebagai korban pemerkosaan adalah karangan terduga pelaku. "Tidak benar (korban pemerkosaan), pelakunya hanya mengarang cerita saja," kata Made Budi.
Penyelidikan kini beralih ke lingkungan terdekat terduga pelaku. Polisi saat ini mencari keberadaan kekasih Kamila Hamdi untuk dimintai keterangan, meskipun belum dapat dipastikan apakah kekasihnya tersebut terlibat dalam pengiriman ancaman. "Penyidik juga masih mencari informasi keberadaan pacar K," ujar Made Budi. Langkah ini penting untuk mendapatkan perspektif lebih luas, memverifikasi klaim peretasan, serta mengungkap potensi keterlibatan pihak lain atau motif sesungguhnya di balik serangkaian teror digital yang menimbulkan keresahan di kalangan siswa, orang tua, dan institusi pendidikan. Kasus ini menyoroti kerentanan sistem komunikasi digital terhadap penyalahgunaan dan dampaknya yang meluas terhadap keamanan publik dan psikologis masyarakat. Penggunaan identitas palsu atau klaim peretasan akun menantang penegakan hukum dalam mengidentifikasi pelaku asli dan menegakkan keadilan di ranah siber. DPR telah mendesak kepolisian untuk menuntaskan kasus teror bom ini, mengingat potensi dampaknya yang lebih luas menjelang periode libur akhir tahun.