:strip_icc()/kly-media-production/medias/5421998/original/094656500_1763966229-WhatsApp_Image_2025-11-24_at_12.32.48.jpeg)
Tim pemulihan trauma mendesak untuk terus memperkuat kehadirannya di Banjarnegara, Jawa Tengah, menyusul bencana tanah longsor yang melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, pada Minggu, 16 November 2025. Peristiwa tragis ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam secara psikologis bagi para penyintas.
Bencana longsor yang dipicu oleh retakan tanah yang jenuh air akibat musim hujan ini, mulanya menewaskan 11 orang dan menyebabkan 17 lainnya hilang, serta merusak 182 rumah. Proses pencarian dan pertolongan (SAR) yang berlangsung selama sepuluh hari secara resmi dihentikan pada Selasa, 25 November 2025. Hingga penutupan operasi SAR, total 17 jenazah berhasil ditemukan, termasuk dua potongan tubuh manusia, namun 11 korban lainnya masih belum ditemukan. Selain itu, sekitar 30 rumah dilaporkan terkubur, memaksa lebih dari 900 warga mengungsi.
Melihat skala dampak psikologis yang besar, kebutuhan akan trauma healing menjadi sangat mendesak. Berbagai pihak telah bergerak untuk memberikan pendampingan. Ketua Umum Bhayangkari, Juliati Sigit Prabowo, didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Jawa Tengah, Diana Ribut Hari Wibowo, mengunjungi pengungsian pada Minggu, 23 November 2025. Dalam kunjungan tersebut, Juliati tidak hanya menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan pokok, tetapi juga meninjau fasilitas kesehatan dan layanan trauma healing yang disiapkan Tim SIM Dokkes Polres Banjarnegara bekerja sama dengan unsur terkait. Ia menekankan bahwa kesehatan mental dan psikologis warga sama pentingnya dengan kebutuhan materi.
Tim Trauma Healing dari Polda Jawa Tengah juga telah diterjunkan ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan psikologis. Intervensi ini diharapkan dapat memperkuat mental warga dalam menghadapi cobaan dan memberikan rasa nyaman di tengah situasi sulit.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis Jawa Tengah, Gones Saptowati, yang juga pengurus PMI Kabupaten Banjarnegara, menyerukan agar pemulihan kondisi psikologis para pengungsi dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Berdasarkan asesmen awal yang dilakukan di beberapa lokasi pengungsian, ditemukan bahwa tiga dari 38 anak menunjukkan kondisi kurang nyaman. Intervensi dilakukan dengan metode seperti terapi seni (art therapy) dan pemberian perhatian khusus bagi kasus-kasus yang lebih serius. Kolaborasi erat telah terjalin antara psikolog Polri, RSUD Banjarnegara, serta berbagai organisasi sosial lainnya untuk memastikan penanganan psikologis yang komprehensif.
Upaya pemulihan juga menyasar anak-anak di SDN 2 Pandanarum, di mana kegiatan belajar mengajar dirancang dengan metode yang lebih ceria dan menghibur, melibatkan permainan edukatif dan aktivitas kreatif. Psikolog dari RSUD Banjarnegara, Gones Saptawati, menyatakan bahwa pendekatan ini membantu anak-anak rileks, berinteraksi, dan perlahan melupakan pengalaman menakutkan yang mereka alami. Pendampingan psikososial tidak hanya difokuskan pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang membutuhkan konseling individu, termasuk rujukan dari puskesmas.
Penelitian sebelumnya mengenai bencana longsor di Banjarnegara menunjukkan tingginya prevalensi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan kecemasan pada korban, menggarisbawahi urgensi upaya pemulihan psikologis yang berkelanjutan. Dengan penutupan operasi SAR, fokus pemulihan kini beralih ke aspek psikososial, rehabilitasi, dan rekonstruksi, termasuk penyediaan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) serta santunan bagi keluarga korban.