Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pembalakan Liar Jadi Biang Kerok Kayu Gelondongan Banjir Sumatera, Ungkap Guru Besar IPB

2025-12-04 | 20:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-04T13:04:40Z
Ruang Iklan

Pembalakan Liar Jadi Biang Kerok Kayu Gelondongan Banjir Sumatera, Ungkap Guru Besar IPB

Ribuan batang kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, telah memicu kekhawatiran publik dan dugaan kuat adanya praktik pembalakan liar. Video-video viral yang menampilkan material kayu berserakan pascabencana alam tersebut memperkuat desakan untuk penyelidikan menyeluruh.

Menanggapi fenomena ini, Ahli Kebijakan Hutan IPB University, Prof. Dodik Ridho Nurochmat, menjelaskan bahwa kayu-kayu besar dan kecil yang terlihat di lokasi bencana tidak berasal dari satu penyebab tunggal. Berdasarkan informasi visual, ia menduga kayu tersebut kemungkinan merupakan campuran dari penebangan lama, sisa pembersihan lahan (land clearing) yang tidak tuntas, pohon tumbang alami, hingga penebangan baru. Prof. Dodik menekankan pentingnya investigasi untuk memastikan asal-usul kayu tersebut. Ia juga membedakan antara kayu hasil pembalakan yang umumnya memiliki bekas gergaji yang jelas dengan kayu tumbang alami yang tidak menunjukkan pola potongan rapi. Menurutnya, bencana longsor ini merupakan kombinasi dari faktor cuaca ekstrem, kondisi geografis pegunungan, dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB, Prof. Bambang Hero Saharjo, secara lebih tegas mengindikasikan keterlibatan aktivitas manusia. Ia menyatakan bahwa gelondongan kayu besar yang terbawa arus banjir tidak menunjukkan tanda-tanda lapuk atau roboh secara alami. Prof. Bambang mengaitkan temuan ini dengan kasus serupa yang pernah ia tangani di kawasan lindung Sumatera Utara beberapa tahun lalu. Ia menjelaskan bahwa hutan yang sehat memiliki sistem perakaran yang kuat dan kerapatan tajuk yang mampu menahan laju air hujan, sehingga tumbangnya pohon secara alami tidak akan terjadi dalam skala besar. Gangguan pada vegetasi akibat pembalakan liar disebutnya menghilangkan kerapatan tajuk dan memicu perubahan drastis dalam aliran air serta kestabilan tanah, yang kemudian berujung pada erosi dan peningkatan risiko longsor.

Lebih lanjut, Guru Besar Kebijakan Kehutanan IPB University, Prof. Sudarsono Soedomo, dan Kepala Pusat Studi Sawit IPB, Prof. Budi Mulyanto, turut menyoroti bahwa degradasi hutan di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan sudah berlangsung lama, jauh sebelum kelapa sawit menjadi komoditas dominan. Mereka menyebut pembalakan liar, lemahnya tata kelola hutan, dan ketidaktegasan negara dalam penegakan hukum sebagai penyebab utama kerusakan hutan yang membuat banyak kawasan hutan berubah menjadi area tanpa pengelola dan tanpa kepastian hukum.

Keseriusan masalah ini mendorong berbagai pihak untuk mendesak investigasi mendalam. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut) bersama Polri bahkan telah membentuk tim investigasi untuk mengusut asal-usul gelondongan kayu yang terbawa banjir di Sumatera. Kemenhut juga telah menggunakan aplikasi Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO) untuk menganalisis jenis dan tanda-tanda perlakuan manusia pada kayu. Para ahli menekankan perlunya pembenahan tata kelola lingkungan dan pemanfaatan hutan yang berkelanjutan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.