Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Operasi Pengamanan Tahun Baru: 16.500 Personel TNI-Polri Fokus di Jantung Kota Sudirman-Thamrin

2025-12-31 | 20:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T13:52:19Z
Ruang Iklan

Operasi Pengamanan Tahun Baru: 16.500 Personel TNI-Polri Fokus di Jantung Kota Sudirman-Thamrin

Ribuan personel gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), bersama unsur pemerintah daerah, dikerahkan untuk mengamankan perayaan malam Tahun Baru 2026 di Jakarta. Fokus utama pengamanan terpusat di kawasan protokol Jalan Sudirman-MH Thamrin, yang akan diberlakukan sebagai area bebas kendaraan atau Car Free Night (CFN) mulai pukul 18.00 WIB pada 31 Desember 2025 hingga dini hari 1 Januari 2026. Penempatan personel ini bertujuan untuk memastikan kelancaran perayaan, ketertiban umum, dan mitigasi risiko keamanan di titik-titik keramaian ibu kota.

Polda Metro Jaya mengerahkan total 5.044 personel gabungan untuk pengamanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di seluruh wilayah DKI Jakarta, terdiri dari 4.217 anggota Polri, 394 personel TNI, dan 433 personel dari pemerintah daerah. Secara spesifik untuk malam pergantian tahun di kawasan-kawasan padat seperti Sudirman-Thamrin, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Komarudin menyatakan bahwa 2.000 personel gabungan TNI-Polri disiagakan. Sementara itu, Kodam Jaya turut menyiagakan sekitar 4.500 prajurit TNI untuk mendukung pengamanan Nataru di Jakarta. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta juga menurunkan 1.692 personel, dengan 288 personel Unit Reaksi Cepat (URC) siap menanggapi aduan masyarakat terkait gangguan ketertiban umum. Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menjelaskan bahwa pengamanan dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia hingga sepanjang Jalan MH Thamrin–Sudirman.

Kebijakan Car Free Night di Jalan Sudirman-Thamrin, yang membentang hingga Merdeka Barat, merupakan langkah berulang yang diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengakomodasi perayaan publik berskala besar. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menyatakan kebijakan ini untuk menjamin keamanan dan kenyamanan warga yang diperkirakan akan memadati pusat kota. Sepanjang koridor utama ini, delapan panggung hiburan telah disiapkan dari Bundaran Patung Kuda hingga Bundaran Senayan, menandakan upaya pemerintah menyediakan alternatif perayaan yang terpusat dan terkontrol. Penutupan jalan dan rekayasa lalu lintas disiapkan secara dinamis, termasuk antisipasi terhadap juru parkir liar dan pengaturan transportasi publik, untuk mengelola jutaan warga yang diprediksi bergerak selama periode Nataru.

Tahun ini, perayaan malam tahun baru di Jakarta diwarnai imbauan dari pihak berwenang untuk tidak menyelenggarakan pesta kembang api. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan imbauan ini sejalan dengan instruksi Gubernur DKI Jakarta, sebagai bentuk empati kepada warga yang terdampak bencana alam di Sumatera. Danrem 051/WKT Brigjen TNI Nugroho Imam juga mengajak warga untuk merayakan pergantian tahun sewajarnya dan menghindari pesta kembang api yang berlebihan. Langkah ini mencerminkan adaptasi terhadap kondisi sosial dan kebutuhan untuk mengelola perayaan secara lebih bijak.

Secara ekonomi, pelarangan kembang api dan pergeseran fokus perayaan dipandang sebagai dorongan terhadap perilaku konsumsi yang lebih beradab dan realistis. Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpandangan bahwa kebijakan ini akan menggeser pola belanja masyarakat, bukan mematikan aktivitas ekonomi secara total. Warga dan pengunjung tetap akan membelanjakan uang untuk transportasi, kuliner, penginapan, dan hiburan non-kembang api, menjaga perputaran uang tetap berjalan. Namun, pelaku usaha yang selama ini mengandalkan atraksi kembang api perlu beradaptasi dan merancang nilai jual baru yang lebih aman dan bermakna.

Implikasi jangka panjang dari pendekatan pengamanan dan perayaan yang lebih terpusat dan terkendali ini dapat memperkuat kapasitas Jakarta dalam mengelola acara publik berskala besar. Koordinasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah, yang diperkuat oleh pengerahan ribuan personel dan pos-pos pengamanan di 106 titik, menunjukkan keseriusan dalam menjaga stabilitas dan ketertiban. Namun, tantangan tetap ada, termasuk potensi kepadatan lalu lintas di area-area penyangga CFN dan kerawanan kriminalitas konvensional seperti tawuran, pencurian, hingga ancaman terorisme, sebagaimana diungkapkan oleh Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi dari Polda Metro Jaya pada tahun sebelumnya. Mengingat prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai peningkatan curah hujan ekstrem di beberapa wilayah, kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam juga menjadi bagian integral dari operasi pengamanan ini.