:strip_icc()/kly-media-production/medias/5455903/original/054147000_1766743492-unnamed.png)
Lonjakan dramatis jumlah kendaraan roda empat yang memasuki Kota Yogyakarta telah mencapai 700.000 unit hingga Jumat, 26 Desember 2025, melampaui rata-rata harian normal sebesar 125.000-150.000 kendaraan di enam simpang utama. Situasi ini mengindikasikan puncak kepadatan arus lalu lintas yang signifikan selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), memicu respons cepat dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan instansi terkait dengan menyiapkan kantong-kantong parkir tambahan serta rekayasa lalu lintas untuk mengurai kemacetan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, mengungkapkan bahwa prediksi puncak kunjungan ke kota ini akan terjadi pada Jumat malam dan Sabtu malam, dengan perkiraan hingga 1 juta kendaraan pribadi akan memadati Yogyakarta khusus untuk Kota Yogyakarta pada periode tersebut. Sementara itu, data yang lebih luas dari Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dishub DIY) menunjukkan total 1.100.944 kendaraan telah memasuki wilayah DIY hingga 24 Desember 2025, dengan total pergerakan lalu lintas masuk dan keluar melampaui 2 juta unit kendaraan. Mobilitas tinggi ini didominasi oleh kendaraan dari luar daerah, mengacu pada pelat nomor kendaraan yang terpantau. Kementerian Perhubungan bahkan memproyeksikan sekitar 7 juta orang akan memadati Yogyakarta selama periode Nataru, dengan 3,86 juta di antaranya menggunakan kendaraan pribadi.
Untuk mengantisipasi lonjakan volume kendaraan dan menekan potensi parkir liar, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menambah sejumlah kantong parkir. Lokasi tambahan yang disiapkan untuk kendaraan roda empat meliputi Stadion Kridosono dan lahan selatan PLN di Jalan Margo Utomo. Kedua lokasi ini merupakan aset milik PT Anindya Mitra Internasional (AMI), BUMD Pemerintah Daerah DIY. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa penambahan kantong parkir merupakan bagian dari kebijakan penataan ruang parkir untuk mengantisipasi kelebihan kapasitas, terutama di kawasan pusat kota.
Lebih lanjut, untuk kendaraan besar seperti bus pariwisata, Pemkot mengarahkan parkir ke Tempat Khusus Parkir (TKP) eks Menara Kopi di Jalan Abu Bakar Ali. TKP Ngabean juga dioptimalkan untuk kendaraan dari arah barat, dan SMPN 3 Yogyakarta disiapkan sebagai opsi parkir tambahan. Hasto Wardoyo berharap agar kawasan inti Sumbu Filosofi tidak dipadati parkir bus, dengan TKP Senopati menjadi titik parkir utama bagi bus.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub DIY, Rizki Budi Utomo, menyoroti Prambanan dan Tempel sebagai pintu masuk utama yang paling padat. Selain itu, Jembatan Kabanaran di perbatasan Bantul-Kulon Progo juga menjadi titik tujuan wisata yang ramai, di mana bus pariwisata kerap berhenti untuk menurunkan penumpang berfoto, menyebabkan potensi kepadatan lalu lintas. Untuk mengurai kepadatan, Dishub DIY melakukan penyesuaian durasi lampu lalu lintas (APILL) secara dinamis melalui pantauan Area Traffic Control System (ATCS).
Rekayasa lalu lintas situasional juga diterapkan. Direktur Lalu Lintas Polda DIY, Kombes Pol Yuswanto Ardi, mengimbau pengendara yang tidak memiliki keperluan penting di pusat kota untuk menghindari jalur-jalur utama dan memanfaatkan jalur Ring Road. Penutupan Jembatan Kewek akibat kerusakan teknis turut mempengaruhi pola pergerakan lalu lintas, khususnya bagi kendaraan dari arah Stasiun Tugu yang kini harus memutar melalui Stadion Kridosono jika ingin menuju Malioboro. Kondisi ini, menurut Ardi, menuntut adaptasi signifikan dalam manajemen lalu lintas di sekitar simpang Gramedia dan depan Rumah Sakit Bethesda.
Masalah kemacetan di Yogyakarta selama libur Nataru telah menjadi tantangan tahunan yang berulang. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan telah menyoroti perlunya pola lalu lintas baru untuk mengurai kepadatan, mengusulkan pengalihan kendaraan yang hanya melintas agar tidak memasuki kota atau jalur yang menuju kota. Sultan mengusulkan jalur yang lebih jauh dari Ring Road, seperti pengalihan dari Prambanan melalui Piyungan atau ke arah Tempel menuju Magelang, untuk memecah konsentrasi lalu lintas. Upaya mitigasi jangka panjang ini menekankan perlunya perencanaan infrastruktur dan manajemen lalu lintas yang adaptif untuk menyeimbangkan kebutuhan pariwisata dengan kenyamanan mobilitas warga lokal. Pola pergerakan lalu lintas selama liburan yang bergeser dari pagi ke siang hingga malam hari, berbeda dari hari biasa, semakin memperumit upaya pengaturan dan membutuhkan fleksibilitas operasional yang tinggi dari aparat di lapangan.