:strip_icc()/kly-media-production/medias/5448059/original/065762900_1765978898-Bengkel_motor_Fausul_di_Pulau_Mandangin.jpg)
Di tengah denyut ekonomi pedesaan di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, kisah dua pelaku usaha, Salim dan Mahmud Yunus, menggambarkan lintasan nyata transformasi dari keterbatasan menuju kemandirian ekonomi. Salim, seorang mantan pengayuh becak, kini mengelola bisnis Bebek Songkem yang telah merambah pasar waralaba, sementara Mahmud Yunus, yang berawal dari beragam usaha termasuk bengkel mobil, sukses membangun perusahaan pemasok drum industri berskala nasional. Kisah mereka bukan sekadar narasi pribadi, melainkan cerminan ketahanan dan inovasi yang mendorong pertumbuhan signifikan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Pertumbuhan UMKM di Sampang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Data Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sampang mencatat lonjakan jumlah UMKM dari 32.271 unit pada tahun 2021 menjadi 37.117 unit pada Juli 2024. Peningkatan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk transisi pekerjaan di tengah sulitnya lapangan kerja formal dan adaptasi terhadap perkembangan zaman yang menuntut inovasi dan promosi produk secara langsung maupun daring, menurut Kepala Bidang Koperasi Diskoperindag Sampang, Evi Hariyati. Namun, perjalanan UMKM tetap diwarnai tantangan seperti pemasaran, ketersediaan bahan baku, persaingan ketat, akses permodalan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Salim, warga Kecamatan Camplong, Sampang, membuktikan bahwa warisan resep keluarga dapat menjadi fondasi bisnis yang menjanjikan. Dengan dukungan dan bimbingan dari Medco E&P serta SKK Migas, usaha Bebek Songkem miliknya berkembang pesat dari industri rumahan. Produksinya kini mencapai lebih dari 300 ekor bebek setiap hari, dengan distribusi menjangkau Surabaya, Pasuruan, dan daerah sekitarnya di luar Pulau Madura. Keberhasilan ini tercermin dari omzet bulanan yang dilaporkan mencapai Rp 120 juta pada Juli 2022, bahkan telah membuka peluang bisnis waralaba. Sementara itu, peternak bebek lainnya, Syaifullah dari Desa Sejati, Kecamatan Camplong, juga menunjukkan potensi serupa melalui Boster Farm, usaha peternakan bebek petelur yang didukung Medco Energi Sampang Pty. Ltd. Ia berencana menambah populasi bebeknya hingga 600-900 ekor untuk memenuhi tingginya permintaan telur asin di pasar lokal.
Di sisi lain, Mahmud Yunus, pengusaha muda asal Sampang, mengukir jejak di sektor yang lebih erat dengan "deru mesin" industri. Setelah mengarungi berbagai pekerjaan dari sales, pedagang kaki lima, hingga membuka cuci motor dan bengkel mobil, ia menemukan passion dalam bisnis pemasok drum. Yunus, pemilik CV. Karya Abadi di Sidoarjo, kini berhasil memasok ribuan drum besi dan plastik setiap bulan ke berbagai industri besar di seluruh Indonesia. Perjalanannya menjadi inspirasi, menunjukkan bahwa ketekunan dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan bisnis dapat mengubah tantangan menjadi peluang besar.
Pemerintah Kabupaten Sampang secara aktif mendorong pertumbuhan UMKM melalui berbagai program. Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Sampang gencar meningkatkan wawasan dan keterampilan pelaku usaha, termasuk melalui kegiatan demo masak dan edukasi untuk menciptakan produk inovatif. Salah satu inisiatif penting adalah program sertifikasi halal gratis bagi UMKM, dengan target seluruh Industri Kecil Menengah (IKM) dan usaha mikro memiliki sertifikat halal pada tahun 2024. Selain itu, program "Sahabat UMKM" yang digagas oleh Bank Sampang menyediakan pembiayaan hingga Rp 50 juta dengan margin 5% per tahun, bahkan tanpa jaminan untuk plafon di bawah Rp 5 juta, bertujuan untuk mendukung pemulihan ekonomi di tengah tantangan global. Pemkab Sampang juga memfasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara gratis bagi pelaku ekonomi kreatif, meskipun dengan kuota terbatas.
Chairijah, Kepala Diskopindag Sampang, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Peningkatan UMKM tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang merata di 14 kecamatan di Sampang, serta munculnya wisata agribisnis dan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Dengan dukungan ini, diharapkan UMKM di Sampang tidak hanya bertahan di pasar daerah tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional, salah satunya dengan menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang mengedepankan inovasi dan nilai tambah. Tantangan permodalan dan adaptasi digital masih menjadi pekerjaan rumah, namun semangat kewirausahaan yang kuat, didukung ekosistem yang kondusif, terus membuka jalan bagi lebih banyak pelaku usaha di Sampang untuk "naik kelas" dan berkontribusi pada kemandirian ekonomi daerah.