:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457943/original/040449000_1767067005-1001439252.jpg)
Pencarian mendalam terhadap Fernando Martin Carreras, pelatih tim sepak bola wanita Valencia CF, dan dua putranya yang masih hilang setelah kapal pinisi KM Putri Sakinah tenggelam di Selat Pulau Padar, Labuan Bajo, pada Jumat malam, 26 Desember 2025, terus menghadapi kendala signifikan akibat kondisi perairan yang ekstrem. Meskipun telah mengerahkan 123 personel dari 15 unsur SAR gabungan, penyelam profesional, termasuk warga negara asing, serta peralatan teknologi canggih, operasi ini memasuki hari kelima dengan progres yang menantang di salah satu destinasi wisata bahari paling indah namun berbahaya di Indonesia.
Kapal KM Putri Sakinah yang mengangkut 11 orang – tujuh wisatawan Spanyol dan empat awak kapal – mengalami mati mesin dan dihantam gelombang tinggi di perairan Selat Pulau Padar saat perjalanan menuju Pulau Padar untuk trekking, setelah sebelumnya berwisata ke Pulau Kalong. Insiden tersebut terjadi saat cuaca memburuk tiba-tiba pada Jumat malam. Istri Martin, Andrea, dan seorang putrinya, Mar, berhasil selamat bersama empat awak kapal dan pemandu wisata setelah berpegangan pada sekoci dan dinding kapal. Tragisnya, jenazah satu putri Martin telah ditemukan pada Senin, 29 Desember 2025, dan sedang dalam proses identifikasi oleh DVI Polres Manggarai Barat. Namun, Martin Carreras dan dua putranya yang lain, yang diduga terjebak di kabin bagian lambung kapal, masih belum ditemukan.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, yang bertindak sebagai Koordinator Misi SAR (SMC), menyatakan bahwa pencarian menghadapi tantangan berat. "Arus bawah laut cukup kuat, disertai hujan lebat dan gelombang tinggi. Kondisi ini membatasi jarak pandang penyelam dan mempersempit waktu kerja efektif di laut," ujar Fathur di Labuan Bajo. Gelombang di lokasi kejadian sempat mencapai 2 hingga 3 meter pada saat insiden, mempersulit upaya pencarian awal. Area pencarian telah diperluas hingga radius 5,25 mil laut dari titik kejadian, mencakup pesisir pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar seperti Pulau Serai, Pulau Pengah, Pulau Papagarang, Pulau Siaba Besar, hingga ke utara Pulau Kanawa.
Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menambah dukungan peralatan SAR canggih untuk memperkuat pencarian bawah laut. Peralatan tersebut meliputi satu unit seabob, satu unit sistem sonar 2D, satu unit Tactical Rescue Diver Thruster untuk mobilitas penyelam, dua unit scooter Bonex, dan satu unit drone bawah air SRV-8 MS yang dilengkapi monitor cadangan dan alat pengisi daya cadangan. Selain itu, drone thermal Basarnas dengan kamera inframerah juga disiapkan untuk pemantauan udara. Namun, derasnya arus laut berisiko tinggi sehingga drone bawah laut belum diturunkan secara maksimal. "Karena kita melihat arusnya cukup deras makanya belum berani untuk kita turunkan," kata Fathur.
Komunitas penyelam lokal dan asing juga turut dilibatkan. Penyelam warga negara asing tergabung dalam komunitas Dive Operators Collaboration Komodo (DOCK), sementara penyelam profesional Komodo (P3Kom) dan Gabungan Usaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) juga berpartisipasi. Ketua P3Kom Labuan Bajo, Marsel Betong, mengungkapkan bahwa tim penyelam telah melakukan pencarian hingga kedalaman 20 meter di perairan Pulau Padar.
Kondisi geografis perairan Labuan Bajo, yang merupakan gerbang ke Taman Nasional Komodo dan situs Warisan Dunia UNESCO, memang dikenal memiliki karakteristik yang menantang. Wilayah ini adalah jalur pertemuan arus Laut Flores dan Selat Sape, menciptakan arus kuat dan dinamis yang dapat membawa objek terseret jauh dari titik awal kejadian. Variasi kedalaman perairan di sekitar Labuan Bajo sangat beragam, mulai dari beberapa meter hingga palung yang mencapai 30 meter atau lebih. Kondisi ini, ditambah perubahan cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, menjadi faktor utama kesulitan dalam operasi SAR.
Wakil Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Fernando Burgos Sainz, menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan sinergi lintas institusi dalam upaya pencarian korban. Insiden ini telah mendorong Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo untuk memberlakukan penutupan sementara seluruh aktivitas pelayaran kapal wisata di perairan Manggarai Barat guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Larangan berlayar ini berdasarkan informasi peringatan dini tinggi gelombang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tragedi KM Putri Sakinah bukan hanya duka bagi keluarga korban, tetapi juga menyoroti kerentanan sistem keselamatan dalam ekosistem wisata bahari di Labuan Bajo, memicu evaluasi mendalam terhadap standar operasional dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi maritim yang tidak menentu. Upaya pencarian akan terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan dinamika arus laut, sembari menjaga keselamatan seluruh personel di lapangan.