Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengatasi Trauma Pasca-Banjir Sumatra: Trauma Healing Kunci Pemulihan Mental Korban Bencana

2025-12-05 | 07:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T00:00:08Z
Ruang Iklan

Mengatasi Trauma Pasca-Banjir Sumatra: Trauma Healing Kunci Pemulihan Mental Korban Bencana

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra sejak pertengahan hingga akhir November 2025 tidak hanya meninggalkan kerugian materiil dan korban jiwa, namun juga menyisakan luka psikologis mendalam bagi para penyintas. Seiring dengan penanganan darurat dan distribusi bantuan logistik, upaya pemulihan mental atau trauma healing kini menjadi fokus utama berbagai pihak untuk membantu masyarakat bangkit dari dampak bencana.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyoroti bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami trauma mendalam pascabencana. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda dan tempat tinggal, tetapi juga memikul beban psikologis lebih berat, seperti kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga dan ketidakpastian masa depan. Oleh karena itu, Arifah menekankan pentingnya layanan konseling dan trauma healing yang berkelanjutan bagi perempuan terdampak. Meskipun anak-anak seringkali terlihat bermain dan tidak menunjukkan trauma secara kasat mata, Menteri PPPA mengingatkan bahwa pengalaman bencana dapat meninggalkan kesan mendalam yang terbawa hingga dewasa.

Menyikapi kondisi ini, berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah bergerak cepat menyediakan dukungan psikososial. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), melalui tim Pusat Informasi dan Media Center Bencana Komdigi, mendirikan posko trauma healing di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjelaskan bahwa posko ini fokus membantu pemulihan psikologis warga, terutama anak-anak yang belum bisa beraktivitas normal di rumah mereka. Program trauma healing di posko tersebut mencakup pendampingan psikologis, permainan edukatif, sesi konseling, serta aktivitas relaksasi.

Di sisi akademisi, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga mengirimkan tim trauma healing dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) ke lokasi terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Tim ini melakukan pendampingan psikososial bagi para penyintas.

Berbagai organisasi kemasyarakatan turut berperan aktif. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Sumatra Barat menggelar kegiatan cek kesehatan dan trauma healing bagi korban banjir di Kelurahan Kuranji, Kota Padang. Ketua Satgas Koordinator Pengabdian KAMMI, Farhan Ramuditya, menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari pemulihan terpadu yang juga menyasar pemulihan psikologis anak-anak, melalui sesi dongeng, terapi seni, dan permainan. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui poskonya di Belimbing, Kota Padang, juga menyediakan layanan trauma healing yang awalnya difokuskan untuk anak-anak, dengan melibatkan mahasiswa psikologi dari UIN Imam Bonjol Padang.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menghadirkan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk anak-anak dan kelompok rentan di Kota Padang, yang diisi dengan berbagai permainan, aktivitas edukatif, dan dongeng interaktif yang dipandu Awam Prakoso, Founder Kampung Dongeng Indonesia. Sementara itu, Lembaga BURANGIR di Padangsidimpuan menggelar acara trauma healing untuk anak-anak korban banjir di Sitamiang Baru, yang meliputi konseling anak, berobat gratis, pendidikan mitigasi bencana melalui fun games, kid's outbound, dan buka puasa bersama.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak pemerintah untuk menyediakan lebih banyak layanan pemulihan trauma di posko-posko penanganan bencana di Sumatra, mengingat dampak bencana tidak hanya pada kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental. Anggota Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih, juga meminta adanya pendekatan lintas sektoral yang terintegrasi untuk memaksimalkan pemulihan psikologis siswa, dengan melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.

Upaya kolaboratif dari berbagai elemen ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan mental para korban banjir, sehingga mereka dapat kembali pulih dan beradaptasi dengan kehidupan normal pascabencana.