:strip_icc()/kly-media-production/medias/5430939/original/037491600_1764680667-helipad_mandiri.jpg)
Warga di beberapa wilayah terisolir di Aceh Tengah secara mandiri membangun helipad atau landasan pendaratan helikopter, menyusul keputusasaan mereka karena merasa tidak digubris dan minimnya bantuan yang tiba pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah tersebut. Inisiatif ini muncul dari masyarakat Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, serta warga Serule, Kecamatan Bintang, sebagai upaya untuk mempermudah penyaluran bantuan logistik yang sangat dibutuhkan.
Menurut Badri, seorang warga Jamat Linge, sudah lebih dari seminggu warga di daerahnya belum menerima bantuan sebutir beras pun. Kondisi ini membuat mereka merasa putus asa dan menganggap kematian sudah di depan mata, mengingat ratusan jiwa terdampak, termasuk balita, ibu hamil, dan lansia. Badri berharap pembuatan helipad ini dapat menjadi harapan baru untuk mendapatkan bantuan, termasuk bahan makanan dan obat-obatan.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa hari terakhir telah menyebabkan kerusakan parah di Aceh Tengah, di mana enam kecamatan kini berstatus terisolir total, yaitu Bintang, Ketol, Celala, Kute Panang, Rusip Antara, dan Linge. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mencatat sedikitnya 64 jembatan putus, 59 ruas jalan rusak atau terputus, serta lima ruas jalan nasional yang tidak dapat dilalui. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan bahwa terdapat 97 desa yang terisolir akibat bencana ini, dengan jumlah korban meninggal dunia tercatat 22 orang dan 23 jiwa dinyatakan hilang per 2 Desember 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalila, mengakui bahwa bantuan pangan sangat minim, dengan hanya 6,5 ton beras yang masuk untuk Aceh Tengah setelah dibagi dengan Kabupaten Bener Meriah. Krisis kebutuhan pokok semakin memburuk, pasokan bahan pokok menipis, air bersih sulit didapat, dan stok bahan bakar minyak (BBM) juga sangat minim di wilayah yang terisolasi.
Meskipun demikian, Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, telah meninjau langsung daerah terdampak di Takengon dengan menggunakan helikopter pada 30 November dan 1 Desember 2025, membawa serta bantuan darurat. Fadhlullah menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak membiarkan Aceh Tengah menghadapi bencana ini sendirian dan memastikan penanganan darurat berjalan cepat. Basarnas juga telah mengerahkan jalur laut dan udara untuk distribusi logistik ke Aceh dan wilayah Sumatera lainnya yang terdampak. Selain itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak penyediaan layanan pemulihan trauma bagi para korban, selain pemenuhan kebutuhan dasar.